Tuesday, February 22, 2022

DOSA YANG SAYA BANGGAKAN…..

 


Membaca judul tersebut di atas, muncul suatu pertanyaan aneh secara spontan : “ Kog, dosa dibangakan?” Apalagi kalau ditambah dengan frase : dibangga-banggakan….

Perkembangan gereja akhir-akhir ini cukup baik, cukup membanggakan. Banyak kaum awam yg mengikuti kursus kitab suci, banyak awam terlibat dalam kelompok kategorial seperti Meditasi Kristiani, Legio Maria, Karismatik Katolik, THS-THM dan lain-lain. Dalam kelompok tersebut awam merasa terpanggil untuk terlibat dalam pelayanan gereja. Umumnya kelompok-kelompok tersebut didampingi oleh Para Romo sehingga bila ada yg bengkok, akan diluruskan.

Kita awam katolik ini ada yg sudah dibabtis dari bayi, anak-anak, remaja atau dewasa. Bahkan saat usia kandungan menginjak 7 bulan, tradisi di Jawa akan melakukan ritual mitoni dengan pendekatan budaya dan iman. Singkat cerita, sejak kita dalam kandungan sudah dikenalkan dengan Yesus, Tuhan kita. Dalam menjalani rutinitas kita, apalagi kita jarang aktif di kegiatan-kegiatan gereja (social, KBG, kategorial, kor, dll), hidup iman kita serasa datar saja, membosankan, begitu-begitu saja. Ada suatu titik jenuh bahkan menghantar kita pada titik apatis dengan kegiatan rohani/menggereja. Apalagi ditambah dengan tekanan hidup membuat kita seolah-olah bukan murid Yesus lagi. Akhirnya kita berusaha mencari “tempat lain” sebagai sarana penyaluran kehambaran iman ini. Ada yg mengikuti ibadat di gereja lain, ada yg bergabung dengan kelompok kerohanian buah kearifan lokal nusantara. Dalam kelompok terakhir ini kita tetap berdiri dalam iman kita masing-masing, hanya “pembimbing rohaninya” menyampaiakan pesan yg bersifat universal.

Saya sharingkan pengalaman kerohanian saya. Saya seorang aktifis gereja, yg dulu sempat mengikuti aktifitas di PMKRI saat kuliah, aktif di lingkungan stasi. Ada suatu pemberontakan dalam jiwa terkait dengan kondisi pekerjaan dan akhirnya membuat saya sakit. Pengobatan medis sudah ditempuh tetapi tidak membuahkan hasil. Lumrah bagi kita jika mengalami kondisi demikian kita akan mencari pengobatan alternative ke orang atau kelompok tertentu. Itu sah-sah saja, karena Tuhan berkarya seperti angin yg berhembus kemana ia kehendaki; sehingga siapapun yg mau dipakai Tuhan sebagai sarana penyembuhan, itu akan terjadi. Di satu sisi anjuran para Romo melalui mimbar Sabda/katekese agar kita senantiasa berdoa tak henti-hentinya menggerus kesabaran kita karena kesembuhan itu tidak kunjung datang. Apakah kita salah kalau mencari pengobatan alternative di tempat lain, bahkan di luar jalur keimanan katolik kita? Di sisi lain kita berhak untuk mengalami kesembuhan, apapun caranya, melalui jalan apapun. Intinya jiwaku memberontak dengan kondisi kesehatan dan suasana tempat kerja saya. Singkat cerita saya bergabung dengan kelompo tertentu (non Kristen) , kearifan lokal nusantara. Di situ kami mengolah batin dengan pendekatan iman masing-masing, meditasi di pantai saat malam hari, menjalankan ritual “penyembuhan” bersama-sama. Intinya saya cukup enjoy dengan kelompok itu, bahkan sampailah saya pada titik/level tertentu : bisa mengobato orang, bisa mengirimkan energy jarak jauh (bahkan sampai ke luar pulau) ke saudara/orang yg sakit dan membutuhkan doa kita. Kami bisa mengobrol sampai jam 2, 3 dini hari tanpa mengalami kelelahan/ngantuk saat jam kerja. Dalam menjalani kehidupan “spiritual” kelompok ini, saya semakin rajin membaca kitab suci dan menekuni devosi Koronka (Kerahiman Ilahi).

Di satu sisi, isteri dan mertua saya tidak terima dengan kondisi saya yg rela bergabung dengan kelompok itu sampai dini hari dan mengabaikan kebersamaan dalam keluarga. Ketegangan ini semakin memuncak, di satu sisi batin saya memberikan pembelaan karena dalam kelompok tersebut saya merasa doa saya semakin baik, “kualitas iman” saya terasa semakin baik (walaupun itu sifatnya pembelaan). Mertua dan isteri saya sampai menangis. Akhirnya kami berkumpul dan berdiskusi sambil berdoa di hadapan salib dan lilin yg bernyala. Akhirnya saya berdiam diri sejenak dan tidak hadir di kelompok tadi, merenung sejenak dalam kecamuk hati yg tidak karuan.

Saya duduk termenung di teras rumah saya dan kebetulan saat itu bulan purnama. Saya melemparkan pernyataan ini kepada Yesus, “Yesus, dalam pemahaman iman saya, di mana ada Yesus (dalam rumah tangganya), di situ pasti ada damai sejahtera. Mengapa di saat saya merasa kehidupan doa dan iman saya semakin baik, tetapi rumahku terasa panas, ada penolakan dari isteri dan mertuaku? Berikan aku tanda!” Aku tetap menikmati bulan purnama tersebut di atas langit yg sangat cerah ditaburi bintang-bintang yg terang. Tiba-tiba ada awan yg membentuk lingkaran di sekitar bulan purnama itu dan lingkarannya ada 2. Secara keilmuan yg kita dapat bahwa fenomena lingkaran itu kerap terjadi tapi cuma 1 lingkaran saja. Yang terjadi saat itu ada 2 lingkaran. Lalu saya berlutut sejenak mengucapkan syukur dalam doaku atas petunjuk itu, dan memutuskan untuk keluar/meninggalkan kelompo “spiritual” tadi.

Ada waktu dan ruang yg kosong setelah meninggalkan kelompok tadi dan menimbulkan kecemasan iman. Dalam kecemasan itu saya iseng ke Toko Buku Gramedia mencari buku. Lalu saya membeli buku Meditasi Kristiani karya seorang imam Ordo Carmel. Saya membaca buku itu sampai akhir dan mulai praktek meditasi secara pribadi. Saya merasa nyaman dengan meditasi kristiani itu. Lalu saya ajak teman-teman saya untuk praktek meditasi tersebut di rumah saya. Selanjutnya kami konsultasi dengan Romo Paroki mohon pendampingan dalam kelompok Meditasi Kristiani tersebut, bahkan didatangkan pembimbing yg kompeten al Romo Buyung, O Carm. Perkembangan kelompok ini menjadi cikal bakal pelaksanaan Adorasi Abadi (Adorasi 24 jam) di Paroki tersebut. Sebelum kami mengundang umat lain untuk bergabung dalam kelompok ini, saya mengakui dosa saya di hadapan Tuhan dengan Sakramen Tobat.

Meditasi dan Rosario Koronka akhirnya menjadi peganganku dalam keseharian. Di situlah kebanggaan saya, bahwa melalui ketersesatan iman, saya menemukan harta rohani sampai sekarang. Di situlah Tuhan menempa kita dari suatu masa padang gurun (krisis, bosan, malas berdoa) ke oase kehidupan. Tentu sahabat PMKRI punya pengalaman lain bagaimana mengembangkan imannya. Perlu selalu mewaspadai identitas si jahat, yg kesannya seperti hal yg suci, melalui pembenaran tertentu; untuk itu harus selalu membuat refleksi atas setiap pengalaman “terhibur”, apakah “hiburan” tersebut adalah buah-buah Roh atau kamuflase dari si jahat.

Demikian sharing saya kali….selamat merefleksikan kehidupan masing-masing.

Penulis, Adam Silvanus

Previous Post
Next Post

0 comments: