Tuesday, April 28, 2020

SELAMAT HARI TARI SEDUNIA (29 APRIL 2020)



Tanggal 29 April merupakan hari  yang dipersembahkan untuk menghidupkan seni tari, baik dalam bentuk budaya, edukasi, maupun seni pertunjukan. Seni tari merupakan sebuah seni yang mempelajari tentang gerak tubuh berirama yang dilakukan pada saat tertentu. Seni tari merupakan sebuah karya seni yang memiliki nilai estetika tertinggi. Tidak hanya sebagai hiburan maupun upacara, tarian juga bisa menjadi media untuk hidup sehat.

Seni tari dikelompokkan menjadi dua macam kelompok besar yakni tari tradisional dan tari modern. Tarian tradisional menyangkut kesenian daerah dari masing-masing daerah. Sedangkan tari modern secara umum memiliki banyak jenis tarian.




Karena saya adalah penari tarian tradisional, saya mengajak seluruh penari tradisional untuk tidak berhenti. Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk melestarikan kesenian daerah salah satunya dengan mewariskan tarian daerah kita kegenerasi selanjutnya, jangan berhenti di generasi kita.

Selamat hari tari sedunia untuk para penari di seluruh dunia. Mari terus menari!

Penulis Rahel Dewi Sartika

Sunday, April 26, 2020

FORMULASI TEPAT KUNCINYA



 “Mencari formulasi platfrom jangka panjang sesuai dengan kebutuhan masyarakat tugas kita bersama. Asap akan hilang ketika apinya dipadamkan”



Ditengah kondisi pandemi Covid – 19 yang berkembang secara signifikan setiap harinya, mengingatkan kita dengan Ingvar Kamprad (Pendiri IKEA), pernah mengatakan “Kesederhanaan dan akal sehat mestinya menjadi ciri arah perencanaan dan strategi”.  Sejalan dengan hal tersebut perencanaan merupakan sesuatu pemilihan dan menghubungkan fakta-fakta, membuat serta menggunakan asumsi-asumsi yang berkaitan dengan masa datang dengan menggambarkan dan merumuskan kegiatan-kegiatan tertentu yang diyakini diperlukan untuk mencapai suatu hasil tertentu. Sedangkan strategi merupakan rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus. Sekilas keduanya memiliki tujuan sama mencapai sesuatu hasil. Maka benar diperlukannya suatu kesederhanaan dan akal sehat untuk nantinya, perencanaan dan stratengi  dapat menjadi formulasi kebijakan yang  Terukur (Measurable), Terjangkau (Accessible), Cukup luas (Substantial), dan Dapat dilaksanakan (Actionable).

Formulasi kebijakan adalah sebagai bagian dalam proses kebijakan publik merupakan tahap yang paling krusial karena implementasi dan evaluasi kebijakan hanya dapat dilaksanakan apabila tahap formulasi kebijakan telah selesai, disamping itu kegagalan suatu kebijakan atau program dalam mencapai tujuan-tujuannya sebagian besar bersumber pada ketidaksempurnaan pengolaan tahap formulasi.  Hal ini semakin membuktikan bahwa akal sehat, berfikir secara sistematis dan realistis sangat dituntut dalam merencanakan segala program yang mengkerucut kepada kemaslahatan hidup orang banyak dan selalu berpandangan dari berbagai aspek tidak monoton.

Provinsi Kalimantan Tengah berdasarkan data Gusus Tugas COVID - 19 Kalimantan Tengah, perkembangan Virus corona mengalami peningkatan setiap harinya. Dapat dilihat berdasarkan peta penyebarannya, semua kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Tengah sudah masuk dalam zona merah semua, kecuali kabupaten sukamara masih zona hijau. Hal tersebut membuktikan bahwa perlu perhatian serius dari pemerintah daerah kabupaten dan kota dalam untuk menentukan kebijakan yang tepat untuk memutus mata rantai penyebaran Virus Corona. Dalam data tersebut juga menunjukan kota Palangka Raya lah yang paling banyak terinfeksi Covid-19 di Provinsi Kalimantan Tengah dimana pada tanggal 25 april 2020 terdapat 37 Orang Positif, sembuh 8 orang, meninggal 2 orang ,PDP 20 orang, ODP 74 orang.

Kota Palangka raya seperti yang kita ketahui, beredar diberbagai media nasional tentang Permohonan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Palangka Raya, ditolak oleh Menteri Kesehatan (MENKES) Bapak Terawan Agus Putranto. disampaikannya, wilayah tersebut dinilai belum memenuhi kriteria PSBB. mengacu pada hasil kajian epidemiologi dan aspek lainnya oleh tim teknis dan Keputusan tersebut dilayangkan Menkes Terawan melalui surat yang ditujukan langsung kepada Wali Kota Palangka Raya dengan nomor SR.01.07/Menkes/243/2020 tanggal 12 April 2020. Dalam Peraturan MENKES RI NO. 9 Tahun2020, untuk dapat diterapkan PSBB ,pasal 2) menyatakan Pertama jumlah kasus dan/atau jumlah kematian akibat penyakit meningkat dan menyebar secara signifikan dan cepat ke beberapa wilayah. Kedua, terdapat kaitan epidemiologis dengan kejadian serupa di wilayah atau negara lain.

Memang waktu itu, jumlah kasus positif terinfeksi COVID-19 yang berada di Palangka Raya masih belum berkembang semasif sekarang. Maka waktu itu menjadi perencanaan strategis dari PEMKOT kota Palangka Raya untuk memutus penyebaran virus corona supaya tidak menyebar ke kabupaten lainnya yang berada di Kalimantan Tengah dengan menerapkan PSBB.  Kalimantan Tengah itu sendiri pada dasarnya zona merah berawal di Kota Palangka Raya dan waktu pengajuan PSBB, sudah beberapa kabupaten lainnya menjadi zona merah 4 kalau tidak salah dan 5 dengan Kota Palangka Raya. Ternyata Langkah tersebut tidak sesuai harapan karena di tolak MENKES dengan beberapa pertimbangan memperhatikan jumlah kasus dan epidemiologis di suatu wilayah. Sehingga sekarang sampai pada 25 April 2020 Provinsi kalimantan tengah dari 13 Kabupaten 1 kota, hanya terdapat 1 kota yang masih Zona hijau.

Dalam Peraturan MENKES RI NO. 09 Tahun 2020 Tentang Pedoman PSBB dalam Rangka Percepatan Penanganan COVID-19. selain mempertimbangkan jumlah kasus, kaitan epidemiologi dengan kejadian serupa, persyaratan lainnya juga sangat perlu diperhatikan adalah kesiapan daerah dalam hal-hal  ketersediaan kebutuhan hidup dasar rakyat, ketersediaan sarana dan prasarana kesehatan, ketersediaan anggaran dan operasionalisasi jaring pengaman sosial untuk rakyat terdampak, dan aspek keamanan. Dari pernyataan diatas tentunya banyak PR yang harus diperhatikan dan dijalankan jika PSBB ingin diterapkan dalam suatu wilayah. Sehingga nantinya tidak berfokus dalam satu pandangan melainkan selalu dinamis dengan kondisi keadaan dan tepat sasaran.

Sejalan dengan pembahasan diatas dalam diskusi online Cipayung Plus kota Palangka raya 24 April 2020, terkait “Haruskah PSBB Diterapkan Di Kota Palangka Raya ?”. Menarik untuk disimak, dimana Wakil Ketua I DPRD Kota Palangka Raya terlibat didalamnya dan menyampaikan terkait penolakan diberlakunya PSBB di Kota Palangka Raya, dikarenakan APBDnya masih kecil dan juga korban di Palangka Raya hanya berkisar 60-70 orang sampai hari ini, tetapi langkah dan upaya tetap dilakukan Pemerintah Kota Palangka Raya. Sehingga benar yang dilakukan oleh pemerintah pusat dalam hal ini jangan sampai kebijakan yang baru malah makin memperburuk suatu keadaan. Sebab sejatinya suatu kebijakan muncul untuk mempermudah bukan mempersulit yang ada.

Dalam diskusi tersebut juga sangat bagus disampaikan Sdr. Egi Praginanta (KP. PMKRI Cab. Palangka Raya) dimana dia menganalogikan keadaan yang benar terjadi saat ini di Kota Palangka Raya seperti “ menyikapi suatu kebijakan bukan masalah SIAP atau TIDAK, tetapi formulasi platfrom jangka panjang harus diperkuat terlebih dahulu”. Dalam artiannya dapat kita simpulkan kebijakan seperti apa pun untuk suatu kemaslahatan dan kemajuan kehidupan bersama tidak masalah untuk diterapkan disuatu wilayah tersebut. Tetapi dipertegaskan, harus memperhatikan formulasi yang dapat berpengaruh kesemua elemen tidak menguntungkan sebagian pihak dan merugikan golongan ekonomi menengah kebawah, apalagi kebijakan yang dilahirkan membuat yang susah makin disusahkan dalam menjalankan suatu aktivitas untuk kehidupan yang berkelanjutan.

Berdasarkan data dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan Virus Corona RI mencatat total daerah yang sudah menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) sampai dengan 22 April 2020 mencapai dua provinsi dan 21 kabupaten/kota dan DKI jakarta merupakan Provinsi yang pertama kali menerapkan PSBB di Indonesia. Dapat kita lihat bersama di laman corona.jakarta.go.id per Sabtu (25/4/2020), angka positif COVID-19 di DKI Jakarta sudah mencapai 3,681 orang. Jumlah pasien meninggal dunia mencapai 350 dan 334 orang telah dinyatakan sembuh. Dari pasien yang positif, sebanyak 1.947 orang masih menjalani perawatan di Rumah Sakit dan 1.050 lainnya tengah melakukan isolasi mandiri di kediamannya masing-masing. Pasien Dalam Pemantauan (PDP) mencapai 5.272 orang dan Orang Dalam Pemantauan (ODP) di angka 5.960. Namun, kenyataannya jumlah pasien yang positif COVID-19 di DKI Jakarta nyaris menyentuh angka 45 persen dari total keseluruhan di Indonesia yang mencapai 8.607 pasien. Belum dampak lainnya yang dirasakan masyarakat seperti kriminalitas.

Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Faisal Yunus, Selasa (21/4/2020) menilai penerapan PSBB yang diberlakukan oleh pemerintah pusat saat ini tidak efektif untuk mencegah penyebaran virus corona. Sebab sejauh ini, ia melihat masih banyak warga yang beraktivitas di jalan raya dengan kendaraannya, hingga masih menjalankan kegiatan di rumah ibadah. Menurutnya, hal tersebut disebabkan karena kinerja pemerintah yang tidak maksimal dalam penerapan PSBB. "Kalau dilakukan dengan ketat PSBB bisa efektif, tapi kalau dilihat sekarang kayaknya tidak ketat. Bahkan ada yang masih sholat di masjid dan lainnya.

Kembali dalam pembahasan awal dimana sangat perlu kesederhanaan dan akal sehat dalam menentukan dan menjalankan perencanaan dan strategi sehingga membentuk formulasi kebijakan yang tepat. Refleksikan, lihat dan evaluasi beberapa daerah yang sudah menerapkan kebijakan PSBB ,apa yang menjadi kekurangan sehingga dapat diperbaiki didaerah kita nantinya.  Sebab berdasarkan informasi yang beredar, Palangka Raya dalam waktu dekat akan diadakan semi-lockdown dimulai pada senin, 26 April 2020.

Mari kita sebagai pemuda kota Palangka Raya mencari formulasi platfrom jangka panjang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan masyarakat . Apabila memang nantinya PSBB diberlakukan dikota Palangka Raya, Tentunya dari berbagai aspek pemerintah harus siap dan sebagai pemuda kita pun harus siap mengawal kebijakan yang ada. Harus mempertimbangkan ketersediaan kebutuhan hidup dasar rakyat, ketersediaan sarana dan prasarana kesehatan, ketersediaan anggaran dan operasionalisasi jaring pengaman sosial untuk rakyat terdampak, dan aspek keamanan . serta diutamakan masyarakat dari kalangan ekonomi bawah yang kerja hari ini, untuk makan hari ini (PKL,buruh lepas,tukang becak, petani karet,Dll).

Kondisi saat ini bukan dalam prakondisi lagi, dengan riang gembira ingin mencoba ini dan itu. Tetapi tahap yang sedang dijalankan adalah kondisi yang real didepan mata. Sebenarnya perencanaan sudah lewat tinggal bagaimana mengevaluasi suatu perencanaan. Pemuda Kota Palangka Raya saatnya memikirkan, bukan hanya melaksanakan kegiatan yang bersifat sementara (berbagi ),tentunya hal itu tidak salah melainkan sangat baik untuk dilaksanakan. Tetapi hal tersebut bukan menjadi kunci dari permasalahan. Asap akan hilang ketika apinya dipadamkan. Mari bersama-sama pemuda Palangka Raya mencari formulasi yang tepat hilangkan egoisme organisasi, lepaskan kepentingan individu, membaur dan melebur menjadi suatu kekuatan. Sehingga intelektual populis benar terjadi didalam gerakan pemuda kota Palangka Paya untuk memerangi Pandemi Covid - 19.

Terima Kasih.


Penulis Obi Seprianto


KELUARGA DI TANAH RANTAU


Keluarga adalah tempat sejuta cerita terjadi dengan penuh makna. Dengan sebuah pelukan hangat kesedihan bisa diobati. Kebahagiaan yang hanya muncul dari kesederhanaan, Tidak perlu pergi ke bioskop untuk mendengarkan sebuah cerita yang menarik didalam keluarga ada cerita yang lebih menarik dari pada film di bioskop. Bukan karena alur dari ceritanya,  bukan juga dari isi cerita yang menarik tapi proses menceritakan nya membuat momen itu tak terlupakan.

Namun saat jauh dari keluarga moment seperti itu sulit sekali untuk melupakan nya. Saat pergi merantau ada banyak hal yang telah kita lalui pada diri kita sendiri. Kita mulai terpaksa harus mandiri, harus mampu menjaga diri dan harus lebih berani.

Keluarga ditanah rantau sangat berbeda dengan keluarga dimana tempat kita belajar dan tumbuh besar berkembang.  Seperti sebuah dokumen penting yang tiba-tiba hilang dan mau tidak mau harus diulangi dari awal. Kehidupan di tanah perantauan tidak mudah untuk bisa kembali tertawa dalam sebuah cerita bioskop sederhana, agar bisa seperti saudara yang lebih erat di perantauan. Banyak hal yang berubah dan harus dirubah dan itu penting agar semua nya menjadi sebuah keluarga baru.

Di dalam keluarga ini banyak yang harus dipahami dan dimengerti. Seperti bayi yang baru usia 6 bulan harus belajar berjalan dan mulai memahami kata-kata dari seorang ibu. Begitu juga di dalam keluarga ini kita harus bisa belajar melangkah ke jalan yang benar dan belajar memahami lingkungan sekitarnya. Tidak mudah bagi seseorang untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan yang baru, butuh waktu dan proses untuk bisa beradaptasi di perantauan. Mampu mengalahkan amarah dan emosi dari semua orang adalah pikiran yang dewasa. Tidak jarang karena lelah dan emosi, keluarga yang sudah dibentuk akan bubar begitu saja. Banyak hal yang akan di mulai dari awal jika tidak bisa bertahan.


Dalam perantauan ini sikap yang harus selalu kita kedepankan adalah saling menghargai perbedaan satu sama lain dimulai dari menghargai  suku, ras, dan bahasa yang berbeda-beda setiap orangnya dan banyak lagi.  Sikap saling berbagi membantu satu sama lain juga penting untuk membuat hubungan keluarga di rantau ini semakin erat, karena jika hanya mengedepankan sikap ego maka itu mustahil semuanya bisa berjalan dengan baik. Memang tidaklah mudah untuk berbagi dengan orang lain, apalagi berbagi dengan orang yang kamu tidak mau berbagi dengan nya. Tapi saat semua kegeoisan bisa dikalahkan maka ada satu pesan yang tersimpan di pikiran mereka yaitu dia akan menganggap kamu saudaranya dan hubungan kekeluargaan di rantau pun akan terjalin dengan erat.


Terkadang di tengah malam kita merasa jenuh dan rindu dengan kedua orang tua kita. Air mata seakan mengalir deras karena sebuah kerinduan akan sebuah kebersamaan dengan mereka. Namun yakin dan percayalah bahwa kerinduan itu bisa terobati dengan sebuah pelukan dan kata-kata semangat  dari mereka yang juga adalah keluarga keduamu di perantauan ini.

Sulit memang untuk melakukan hal-hal yang biasa dilakukan di rumah kita dengan apa yang harus dilakukan dirumah rantau ini misalkan harus antri jika mau ke kamar mandi dan terkadang juga rela tidak mandi karna waktu nya telat dan harus buru-buru pergi melaksanakan keseharian aktivitas di luar. Pagimu pun bukan lagi suara kokok ayam yang terdengar tapi suara alarm handphone yang berada disamping bantalmu yang menjadi pengingat bangunmu kini.

Terkadang kita merasa sedih karena jika dalam sebuah moment keluarga dilakukan harus terpaksa tanpa kehadiran kita. Hal itu membuat kita jenuh dan merasa kita di tanah rantau hanya sendirian. Dalam perantauan ini juga kita tidak bisa merayakan Natal dan Buka Tahun bersama keluarga di kampung, tapi satuhal yang menarik adalah di perantauan ini kamu bisa merayakan itu semua dengan orang-orang baru dan bisa bercerita tentang dirimu kepada mereka. Saat kamu sakit ataupun membutuhkan pertolongan, orang yang bisa menolong kamu adalah keluargamu yang ada di perantauan ini, ketika orang tuamu sendiri tidak bisa melakukan itu semua.

Mungkin banyak hal lain yang terjadi di perantauan ini. Banyak juga moment yang bisa menjadi kenangan terpahit dan terbaik.  Semua itu akan bisa berjalan dengan baik jika diri kita mau berubah untuk lebih baik dari yang sebelumnya. Saudara di perantauan adalah orang yang kita hargai sebagai keluarga kita sendiri. Menganggap mereka sebagai keluargamu mungkin juga bisa menggantikan orang yang jarang kamu temui dan tidak ada lagi. Jadikan keluarga perantauan sebagai keluarga kedua bagimu tapi jangan bedakan sikap untuk menjalani nya. Keluarga adalah tempat yang bisa menerima kekurangan dan kelemahan kita namun dari keluarga kita bisa kuat dan berani dan lupakan tentang perbedaan yang ada.

“Semangat anak Rantau jangan sia-sia kan perjalanan mu saat ini dan jangan sia sia kan perjuangan orang tua mu, meski orang tua sudah lelah tapi ketahuilah kesuksesan kita adalah obat dari lelah mereka. Cari dan dapatkan obat itu, bawa lah dengan sebuah senyuman.”

Penulis Silfia Ginting

Thursday, April 23, 2020

KEMELUT MENGATASI VIRUS CORONA (COVID-19)


“Mengatasi Penyebaran Virus Corona (COVID-19) Ditengah Realitas Masyarakat Indonesia, Dalam Prakarsa Multi Regulasi Kebijakan”

Virus corona (COVID-19) memiliki masa inkubasi maksimal 14 hari, yang menyebar melalui kontak fisik, media barang yang sudah terkontaminasi orang yang positif terkena virus corona dan melalui udara melewati aerosol orang yang positif Virus Corona, gejala yang ditimbulkan seperti pilek, sakit tenggorokan, batuk, demam, hingga pada tahap yang lebih serius menyebabkan pneumonia atau sesak nafas.

Virus corona (COVID-19) pertama kali terdeteksi pada akhir tahun 2019 di Kota Wuhan, Tiongkok yang menyebar secara masif dan global hampir di seluruh Negara (Pandemi) yang tak terkendali, termasuk di Indonesia.

Akibat mewabahnya virus corona (COVID-19) di Indonesia, menjadi perhatian amat serius bagi Pemerintah untuk menangani laju penyebaran virus corona (COVID-19) secara masif hampir disemua Provinsi.

Berawal dari kasus positif pertama yang dikabarkan di Indonesia yang menginfeksi Ibu dan Anak di Depok, Jawa Barat. Dilansir melalui Kompas.com, Senin (2/3/2020) Ibu dan Anak ini tertular virus corona (COVID-19) karena kontak dengan warga Jepang yang datang ke Indonesia.

Penanganan Pemerintah Indonesia saat pertama kali mendengar kabar masuknya virus corona di Indonesia masih dianggap kurang responsif, transparan dan kontroversial, ini jelas terlihat dari dinginnya tanggapan serta pernyataan Pemerintah kesannya meremehkan virus corona (COVID-19).

Tindakan Pemerintah dalam mengatasi virus corona (COVID-19)  juga menuai kritikan dari berbagai pihak, Pemerintah dinilai tidak terbuka dalam menangani kasus virus corona (COVID-19) demi mengatasi kegaduhan di masyarakat, agar hal tidak menjadi asumsi publik.

Disharmoni koordinasi Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah menjadi pertanyaan besar sinergisitas otoritas Pemerintah. Dengan adanya kebijakan yang diambil Pemerintah Daerah secara mandiri tanpa adanya persetujuan yang valid dari Pemerintah Pusat.

Alternatif kebijakan yang dilakukan pemerintah sangat beragam, mulai dari karantina wilayah dengan memblok akses keluar masuk daerah, WFH (Work From Home), Physical Distancing (Jarak Fisik), dan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar).

Dari banyaknya kebijakan yang dilakukan Pemerintah agar memutuskan mata rantai penyebaran virus corona (COVID-19) sampai saat ini masih belum berjalan efektif, dilihat dari kepekaan masyarakat dalam menaati kebijakan tersebut, serta tingkat kumulatif data kasus positif virus corona (COVID-19) masih terus bertambah.

Seperti yang telah disinggung diatas, disharmoni koordinasi Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah sungguh menjadi pertanyaan besar, dengan berbagai kebijakan yang masih keliru dipahami seperti karantina wilayah dan lockdown, menariknya pada suatu daerah menyatakan kebijakan lockdown tanpa ada koordinasi maupun instruksi Pemerintah Pusat, sementara dalam regulasi di Indonesia tidak mengenal kata lockdown melainkan karantina yang telah diatur dalam Undang-Undang (UU) Nomor 6 tahun 2018 tentang Karantina Kesehatan. Sedangkan kebijakan karantina wilayah adalah pembatasan akses keluar masuk daerah untuk mencegah kemungkinan penyebaran penyakit atau kontaminasi.

Ini menjadi salah satu indikator serius dalam penanganan virus corona (COVID-19) agar Pemerintah dapat bersinergis dalam melakukan regulasi kebijakan, agar tidak ada terjadi kekeliruan dalam mengambil keputusan.

Masyakarat juga dapat menilai dalam implementasi kebijakan dengan adanya regulasi yang jelas, sehingga berdampak positif pada kepekaan masyarakat dalam menaati kebijakan tersebut.       
 


Penulis : Rizky Pratama

Wednesday, April 22, 2020

SEBUAH CATATAN REFLEKSI DIES NATALIS PMKRI CAB. PALANGKA RAYA KE - 29 TAHUN



Pada tanggal 18 April 2020 PMKRI Cab. Palangka Raya “Sactus Dionisius” memperingati Dies Natalis yang ke – 29 tahun, dimana sejak berdiri pada 18 April 1991 PMKRI Cab. Palangka Raya “Sactus Dionisius” tentunya telah melahirkan ratusan kader potensial yang terhimpun dari berbagai kabupaten di Provinsi Kalimantan Tengah maupun dari berbagai daerah di Indonesia.

Dengan momentum Dies Natalis PMKRI Cabang Palangka Raya ke – 29 ini, kita semua merasa bersyukur atas usia yang sudah tidak lagi muda dan merasa perlu untuk menghimpun kembali kader-kader guna mensinkronkan dan mengkonsolidasi kader-kader PMKRI Cabang Palangka Raya  lintas generasi yang sekarang tersebar di berbagai daerah baik itu di Provinsi Kalimantan Tengah maupun di daerah lainnya di Indonesia. Melalui momentum peringatan inilah para kader diingatkan kembali atas perjuangan-perjuangan dan proses yang telah dilalui selama mengabdi terhadap Perhimpunan.

Dalam usia 29 tahun ini, ada beberapa hal yang dapat kita perhatikan sebagai bahan refleksi untuk dapat terus berjuang dari ilmu dan pengalaman yang sudah didapatkan di Perhimpunan kita tercinta. Sebagai sebuah organisasi yang sudah hadir hampir tiga dasawarsa di Kota Palangka Raya, PMKRI Cab. Palangka Raya terus eksis dan sudah banyak kiprah yang ditorehkan merupakan sebuah pencapaian yang patut kita syukuri. Namun dibalik pencapaian ini ada berbagai macam tantangan yang merongrong Perhimpunan ini baik itu dari segi internal maupun eksternal dan ada berbagai fase yang telah dilalui yang turut membentuk serta mengubah dinamika di dalamnya. Karena kita, kader PMKRI, percaya bahwa perubahan adalah sebuah keniscayaan bagi Perhimpunan. Tentu saja perubahan ke arah yang lebih baik.

Cita-cita luhur PMKRI yang tertuang dalam visi dan misi untuk dapat mewujudkan keadilan sosial, kemanusiaan dan persaudaraan sejati dalam konteks kekinian merupakan suatu tugas mulia yang sungguh menggetarkan bagi segenap anggota Perhimpunan. Bagaimana kemudian hal ini bisa diwujudkan menjadi kenyataan dalam gerak keseharian Perhimpunan yang dicerminkan dengan teladan dan spiritualitas anggota di setiap karya kehidupannya. Inilah yang senantiasa menjadi pergulatan pastoral cycle atau juga dikenal doing theology spiral yang sejak dulu hingga saat ini terus menerus diupayakan dalam Perhimpunan guna memastikan keseimbangan antara refleksi dan tindakan.

Sejarah Perhimpunan mencatat bahwa dalam rentan waktu lampau PMKRI menjadi wadah pilihan sebagian besar mahasiswa Katolik untuk menggalang solidaritas, melatih dan membentuk dirinya menjadi manusia paripurna guna terlibat di berbagai sektor kehidupan Gereja dan Tanah Air. Catatan itu memperlihatkan tingginya antusias mahasiswa Katolik untuk ikut dalam dinamika Perhimpunan. Salah satu variabelnya adalah banyaknya output kader yang sampai saat ini mampu mewarnai dalam kancah kehidupan bermasyarakat di berbagai tempat. Namun kondisi ini berbeda dengan kondisi aktual saat ini. Hiruk pikuk persoalan bangsa yang terasa semakin pelik, aksi-aksi kekerasan yang sering terjadi akhir-akhir ini, runtuhnya moral-sosial, lompatan teknologi yang menyudutkan mereka yang lemah, terbitnya kebijakan-kebijakan dari pemerintah yang terkesan ugal-ugalan dan cenderung diskriminatif mempengaruhi concern PMKRI Cab. Palangka Raya untuk merumuskan konsep pembinaan dan gerakan terutama bagi generasi muda untuk menghadapi semua ini bahkan kemungkinan terburuknya membuat Perhimpunan tumpul bersamaan dengan dominasi pragmatisme politik kekuasaan yang mewabah ke dalam jantung Perhimpunan.

Pola pembinaan PMKRI yang sampai saat ini memang terasa belum cukup menjawab kubutuhan dan tuntutan di tengah kontekstualitas dan himpitan lajunya perkembangan teknologi, turut menciptakan image the other terhadap PMKRI. Hal ini terasa normal ketika kalangan umat dan mahasiswa Katolik banyak menganut pemikiran zona nyaman yang selalu menilai sesuatu lebih kepada kerja konkrit (pragmatis) dengan tidak memperdulikan tuaian dimasa yang akan datang. Jika hal ini terus terjadi, maka bukan tidak mungkin fluktuasi dan dinamika PMKRI Cabang Palangka Raya akan semakin menurun.

Yang harus dicapai adalah pembinaan dan kaderisasi yang dijalankan memperlihatkan adanya kebutuhan untuk mengakomodasi dan merespon tuntutan dan tantangan sebagai dampak perubahan sosial yang terjadi. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul adalah bagaimana memfasilitasi penguatan basis spiritual kader, militansi kader, pembentukan kemampuan leadership dan karakter kader, pengembangan softskill, motivasi untuk terus belajar dan memperluas wawasan kemasyarakatnnya, mulai dari lingkup terkecil hingga wawasan global sebagai satu kesatuan? Bagaimanakah memfasilitasi proses kaderisasi yang mampu melahirkan lapisan kader Perhimpunan yang dapat menggerakan roda Perhimpunan baik itu secara kualitatif dan kuantitatif serta mengembangkan jaringan dan kerjasama yang luas dengan berbagai elemen masyarakat untuk mampu menembus sekat-sekat primordial? Bagaimana mengkonsolidasi bagian-bagian terpenting Perhimpunan yaitu dengan alumni dan hirarki Gereja guna memastikan arah dan proses serta isi pembinaan yang dilakukan? Pertanyaan ini menjadi sulit dijawab karena kita dituntut untuk melakukan sebuah imajinasi yang rasional disertai prediksi – prediksi keadaan yang harus dilalui.

Peran Perhimpunan di tengah dinamika kebangsaan yang memperlihatkan kondisi tidak menentu terkait dengan distorsi aktualisasi substantif agenda reformasi yang cenderung menyimpang merupakan kegelisahan besar yang belum terjawab. Bagaimana bila ilmu pengetahuan dan intektualitas sebagian besar pribadi justru dihiperbolakan sebagai bagian dari media untuk memperdayakan masyarakat, bukan lagi untuk memberdayakan (enpower).

Apakah tanggapan dan bentuk profetis Perhimpunan terhadap realitas polarisasi kakuatan politik dengan agenda kepentingan jangka pendek, anarkisme dan tirani kelompok tertentu yang mulai menggerogoti Pancasilla dan menyinggung keutuhan bangsa yang akibatnya tidak jarang mengiris dan mencabik kemanusiaan kita. Bagaimanakah Perhimpunan mengejawantahkan Ajaran Sosial Gereja menjadi sungguh nyata dalam tugas suci sebagai umat awam terutama dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Jawaban-jawaban kader Perhimpunan atas pertaanyaan-pertanyaan ini paling tidak akan menentukan perspektif dalam melihat ralitas sebagai titik awal refleksi internal yang kembali harus kita mulai hari ini.

Secara makro, PMKRI Cab. Palangka Raya saat ini berupaya mengambil kebijakan yang menyangkut kepentingan keorganisasian secara keseluruhan. Namun, dalam realitasnya masih banyak kendala yang dialami dan belum maksimal. Kebijakan yang telah dilakukan tersebut menyangkut kebijakan internal dan eksternal. Ini berimbas pada kesadaran kritis dan politik Perhimpunan menjadi stagnan dan berpengaruh pada eksistensi PMKRI dimata umat dan masyarakat secara umum. Hal ini terasa pada saat fungsi kontrol yang dilakukan terhadap beberapa kebijakan lokal tidak mampu membangunkan tidur masyarakat dan menggedor kesadaran dan kepedulian kalangan umat dalam kemasyarakatan. Dengan kata lain, law enforcement telah menemui ketidakberhasilan. Harus diakui PMKRI saat ini belum mampu menggelitik politic awareness anggota, mahasiswa dan masyarakat secara umum.

Namun terlepas dari itu semua, sejauh mana kita memiliki dan menghasilkan kebanggaan dan kualitas, tentu tidak perlu membangkitkan kegelisahan tetapi sebuah jawaban beralasan secara rasional. Kalau buruk kita mesti katakan demikian begitu juga sebaliknya. Ini sebuah refleksi kritis yang setidaknya atau seharusnya kita lakukan. Dan ini tidak kemudian membuat kita justru terjebak dengan cerita pesimistis kembali, tetapi sebagai teropong yang tidak sekedar menghasilkan instrumentalisme. Artinya kesadaran kita akan pentingnya instrumen sebagai finalitas tujuan. Kita hapus konvensi-konvensi yang menjadi penghambat Perhimpunan dan melemahkan nilai-nilai PMKRI yang selama ini menjadi stereotype mengenai PMKRI. Kita bangun keunggulan pribadi dengan integritas pribadi yang utuh yang dicirikan dengan enam identitas kader PMKRI yaitu Sensus Chatolicus, Semangat Man For Others, Sensus Hominis, Pribadi Yang Menjadi Teladan, Universalitas dan Magis Semper.

Nilai kebenaran terutama tertanam di dalam jiwa melalui kesadaran dan pengulangan berkali-kali (terlebih-lebih secara meditatif) atas kesadaran tersebut, itulah rahmat ilahi atas diri manusia yang terbungkus oleh kejasmaniannya. Kita semua adalah pelaku sejarah dan kita semua mempunyai capability dalam menginterprestasikannya. Sejarah perjalanan Perhimpunan kita adalah sejarah dialektika realitas yang juga kepentingan bagi kita untuk berubah. Kepentingan perubahan dalam hal ini, menjadi konsekuensi logis realitas. Hanya dengan indegenious knowledge (nilai kearifan) lah kita mampu memposisikan diri sebagai the slave of justice dengan percaya bahwa ada "a blessing in disguise" dari semua proses yang sudah terjadi.

Dirgahayu Perhimpunanku tercinta.

Religio Omnium Scientiarum Anima
Pro Ecclesia et Patria!!!


Penulis : Egi Praginanta

Tuesday, April 21, 2020

NYONYA LISA DIBATAS KOTA, AKU MENCINTAIMU



Anda bisa memotong bunga-bunga, tapi anda tak akan pernah bisa menghalangi musim semi itu datang.

Pada waktu itu saat mentari memancarkan cahaya indah dibumi Tambun Bungai kota cantik Palangka Raya, saat itu pula aku merasa aneh saja ketika tiba-tiba ingat  sosokmu.

Cahaya indah wajahmu itu membuatku menjadi sosok laki-laki yang gila karena memiliki rasa ingin memilikimu. Entalah mungkin ini sedikit alay ketika aku bercerita tentang rasa, tetapi sebagai laki-laki sejati yang datang dari timur ingin menyampaikan kabar baik. Bahwa aku mencintaimu nyonya Lisa dibatas kota itu.

Margasiswapun tau kalau saya selalu mengagumi sosokmu tak mengenal waktu. Hati ini sungguh ingin memilikimu  nyonya, semoga kamu memiliki rasa yang sama sepertiku.Aku lama menunggumu disini, entah kapan kita berjumpa, semoga kamu secepatnya ada disini.
Ini ada puisi ku persembahkan untukmu semoga kamu menyukainya, mewakili segala isi hati yang ada untukmu.

Diam -diamku  ada rasa yang terselip indah namamu dihatiku.
Entah harus dari mana kumulai cerita tentang rasa dalam diamku ini
Kabut sunyi perlahan mulai merayap dihati
Aku yang mencintaimu dalam diam menahan
Rindu Yang kian terpendam,
Ingin rasanya bertemu denganmu,
Tetapi menyapamu saja aku tak sanggup/mampu
Lalu apalah dayaku?
Bahkan anginpun membisu
Ketika aku mengadu tentang apa saja yang bertalian dengan dirimu.

Nyonya lisa maukah dirimu untuk hidup bersama denganku yang hanya seekor domba sedang mencari rumput?


Penulis : Aleksius ceca

Monday, April 20, 2020

MENJADI KARTINI MASA KINI



Hari Kartini yang kita peringati setiap tanggal 21 April mempunyai sebuah sejarah yang luar  biasa bagi kaum perempuan. Dibalik hari itu, Raden Ajeng Kartini lah yang menjadi tokohnya sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi. Perempuan kelahiran Jepara, Jawa Tengah tanggal 21 April 1879 itu merupakan seorang kalangan priyai (kelas bangsawan Jawa). Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara. Nama ayahnya adalah Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat. Dari sisi ayahnya, silsilah Kartini dapat dilacak hingga Hamengkubuwana VI. Tetapi Kartini tidak merasa bangga menjadi keturunan bangsawan.


Di era Kartini, pada akhir abad 19 sampai awal abad 20 perempuan-perempuan negeri ini belum memperoleh kebebasan dalam berbagai hal. Pada surat yang ditulisnya, ia menggugat sebagian besar budaya di Jawa yang dipandang sebagai penghambat kemajuan perempuan. Dia hanya sempat memperoleh pendidikan sampai E.L.S. (Europese Lagere School) atau tingkat sekolah dasar. Setamat E.L.S, Kartini pun dipingit sebagaimana kebiasaan atau adat - istiadat yang berlaku di tempat kelahirannya dimana setelah seorang wanita menamatkan sekolah di tingkat sekolah dasar, maka gadis tersebut harus menjalani masa pingitan sampai tiba saatnya untuk menikah.

Kartini ingin perempuan memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar. Pada saat itu perempuan belum diijinkan untuk memperoleh pendidikan yang tinggi seperti laki-laki bahkan belum diijinkan menentukan jodoh/suami sendiri, dan lain sebagainya. Kartini yang merasa tidak bebas menentukan pilihan bahkan merasa tidak mempunyai pilihan sama sekali karena dilahirkan sebagai seorang perempuan, juga selalu diperlakukan berbeda dengan saudara maupun teman - temannya yang laki-laki, serta merasa iri dengan kebebasan perempuan - perempuan Belanda. Akhirnya tumbuhlah keinginan dan tekad di hati Kartini untuk mengubah kebiasan kurang baik itu. (R.A Kartini :"Gadis yang dipikirannya sudah dicerdaskan, pemandangannya sudah diperluas, tidak akan sanggup lagi hidup didalam dunia nenek moyangnya”.)


Pada pertengahan tahun 1903 saat berusia sekitar 24 tahun menjelang pernikahannya, terdapat perubahan penilaian Kartini soal adat Jawa. Ia menganggap pernikahan akan membawa keuntungan tersendiri dalam mewujudkan keinginan mendirikan sekolah bagi para perempuan bumiputra kala itu. Perubahan pemikiran Kartini ini menyiratkan bahwa dia sudah lebih menanggalkan egonya dan menjadi manusia yang mengutamakan transendensi, bahwa ketika Kartini hampir mendapatkan impiannya untuk bersekolah di Betawi, dia lebih memilih berkorban untuk mengikuti prinsip patriarki yang selama ini ditentangnya, yakni menikah dengan Adipati Rembang. Kartini menyebutkan bahwa sang suami Raden Adipati Joyodiningrat tidak hanya mendukung keinginannya untuk mengembangkan ukiran Jepara dan mendirikan sekolah bagi perempuan bumiputra saja, tetapi juga disebutkan agar Kartini dapat menulis sebuah buku. Suaminya mengerti keinginan Kartini dan diberi kebebasan serta didukung mendirikan sekolah perempuan di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka. (R.A Kartini :"Jangan mengeluhkan hal-hal buruk yang datang dalam hidupmu. Tuhan tak pernah memberikannya, kamulah yang membiarkannya datang".)


Anak pertama dan sekaligus terakhirnya, Soesalit Djojoadhiningrat, lahir pada tanggal 13 September 1904. Beberapa hari kemudian, 17 September 1904, Kartini meninggal pada usia 25 tahun. Kartini dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang. Berkat kegigihannya Kartini, kemudian didirikan Sekolah Perempuan oleh Yayasan Kartini di Semarang pada 1912, dan kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah "Sekolah Kartini". Yayasan Kartini ini didirikan oleh keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis. (R.A Kartini :"Karena ada bunga mati, maka banyaklah buah yang tumbuh. Demikianlah pula dalam hidup manusia. Karena ada angan-angan muda mati, kadang-kadang timbulah angan-angan lain, yang lebih sempurna, yang boleh menjadikannya buah".)


Dalam era sekarang, yang dimana kaum perempuan sudah mempunyai hak dan kewajiban yang sama seperti laki-laki atau yang biasa disebut kesetaraan gender akan semakin membuat kaum perempuan menjadi lebih mudah berkembang, dan hal ini lah yang menjadi cita-cita seorang Kartini pada saat itu.

Sebagai seorang perempuan progresif, jadilah seorang Kartini masa kini. Yang dimana semangat yang ingin diwariskan kepada kaum perempuan saat ini salah satunya adalah menuntut ilmu setinggi-tingginya. Sekarang kita tidak perlu menjadi Kartini masa dulu untuk menjadi Kartini masa kini. Yang kita lakukan hanyalah melanjutkan perjuangannya untuk menunjukan bahwa perempuan sama dimata dunia. Tidak perlu melalui hal-hal yang besar, tetapi dimulai dengan hal-hal yang kecil. (R.A Kartini : “Teruslah bermimpi, teruslah bermimpi, bermimpilah selama engkau dapat bermimpi! Bila tiada bermimpi, apakah jadinya hidup! Kehidupan yang sebenarnya kejam”.)

Ada beberapa pemahaman yang harus diluruskan pada pemikiran segelintir orang-orang, bahwa seorang perempuan tidak bisa memimpin itu bulshit. Seperti yang kita ketahui pada zaman sekarang tidak sedikit kaum perempuan yang menempati posisi strategis dan berpengaruh sampai saat ini, diantaranya adalah Sri Mulyani Indrawati sekarang menjabat sebagai Menteri Keuangan RI (2014 sampai sekarang) dan Susi Pudjiastuti yang juga pernah menjabat sebagai menteri Kelautan dan Perikanan (2014-2019) serta yang sungguh luar biasanya, sejarah mencatat bahwa Indonesia pernah mempunyai seorang Presiden perempuan yaitu Megawati Soekarno Putri (Presiden ke-4 RI) dan masih banyak lagi tokoh-tokoh perempuan lainnya. (R.A Kartini :“Bukanlah laki-laki yang hendak kami lawanni melainkan pendapat kolot dan adat uang”.)

Berdasarkan beberapa contoh diatas, penulis merasa bahwa negara sekalipun memperhitungkan keberadaan kaum perempuan saat ini. Oleh karena itu, kita sebagai kaum perempuan dari generasi milenial harus menciptakan peluang sendiri dengan mengasah kemampuan dan bakat sebagai penunjang pendidikan yang sedang diraih saat ini.

Dengan momen peringatan Hari Kartini, marilah kita mejadi Kartini masa kini dengan meneladani semangatnya untuk melakukan perubahan-perubahan dalam hidup kita melalui hal-hal kecil menuju hal yang lebih baik dalam kehidupan pribadi, berorganisasi, berbangsa dan bernegara. Semoga semangat ini tidak hanya berhenti pada kita, yang lebih penting adalah meneruskannya hingga ke generasi selanjutnya. (R.A Kartini :“Apabila ingin memajukan sebuah negara maka didiklah satu perempuan untuk mempersiapkan tujuh generasi”.)

Seorang teman pernah berkata “perempuan tempatnya di sumur, di dapur dan di kasur, itu ngawur!!!”. Penulispun berfikir demikian.

Dalam hal ini Penulis hanya berpesan, “Jadilah perempuan progresif dan kembangkan potensi diri sehingga akan tiba saatnya dunia beserta penduduknya akan menyaksikan keberhasilanmu”.

“Tiada awan di langit yang tetap selamanya. Tiada mungkin akan terus-menerus terang cuaca. Sehabis malam gelap gulita lahir pagi membawa keindahan. Kehidupan manusia serupa alam".


Penulis : Lintalia 

Saturday, April 18, 2020

MAKNA DI BALIK SEBUAH PERAYAAN DIES NATALIS PMKRI CABANG PALANGKA RAYA KE 29



Dalam perjalan perhimpunan ini, begitu banyak tentang arti sebuah pengorbanan maupun tentang arti dari sebuah perjuangan dalam perhimpunan ini. Dalam langkah sejauh ini begitu banyak fase yang telah kita lalui bersama di organisasi ini. Jadikan moment ini sebagai catatan refleksi dan evaluasi untuk meneguhkan komitmetmen bersama dalam melayani, merawat dan mewujudkan kemandirian organisasi dengan terus menerus menghidupi spirit perjuangan PMKRI yaitu menyatakan kepedulian dan bela rasa terhadap kaum yang tertindas serta menjamin keberlangsungan program pelayanan bagi Gereja dan tanah air.  

Dalam memperjuangkan kaum tertindas dalam setiap pengabdian serta memiliki sebuah rasa untuk bisa menyatukan dalam setiap langkah untuk perjuangan. PMKRI berdiri sejauh ini menjadi landasan yang kuat dan berdiri kokoh diatas segala perjuangan sampai bisa menjadi seperti sekarang ini sebagai wadah perkumpulan mahasiswa katolik berdinamika bersama di dalam perhimpunan ini. Tahun ini tepatnya pada tanggal 18 April PMKRI dalam momentum merayakan Dies Natalis yang ke 29 ini nampak berbeda dan rasa sedih yang dirasakan oleh pengurus dan juga seluruh anggota PMKRI Cab. Palangka Raya di tengah Pandemic Corona Virus ini menjadi tidak bisa di rasa lewat mata untuk memandang semua anggota dengan dekat dan bisa berkumpul membagi cerita setiap masanya.

 

Setiap masanya memang ada ceritanya masing-masing untuk memberi apa yang dirasakan dalam setiap proses di PMKRI Cab. Palangka Raya. Di tengah pandemic corona virus ini juga momen Dies Natalis ini menjadi terbekali untuk kita rayakan dalam bentuk apa yang kita sudah rancangkan sehingga bisa memberikan suatu pengalaman. Dalam perayaan Dies Natalis yang ke 29 ini, kita di batasi oleh ruang dan waktu. Persiapanpun terasa di hadapkan dengan segala perjuangan dari Panitia dan DPC Cab.Palangka Raya untuk bisa menikmati kebersamaan dalam sebuah perayaan Dies Natalis bersama Anggota Penyatu, Anggota Biasa, sampai dengan Anggota Muda. 


Salah satu langkah yang di ambil oleh panitia dan pengurus adalah memanfaatkan teknologi yang ada saat ini agar rasa yang jauh di mata bisa dekat di handphone, itu dapat dirasakan oleh setiap anggota karena ada hal yang berbeda dalam perayaan Dies Natalis kali ini yaitu melalui APLIKASI ZOOM. Menjadi menarik dirasakan di dalam perbincangan lewat Aplikasi ini semua kita menjadi dekat dan merayakan ulang tahun ini pun bisa di rasakan oleh semua anggota dalam suasana haru dan penuh makna dalam aplikasi ini juga bisa menghadirkan banyak sekali anggota PMKRI untuk bisa saling berinteraksi dan berkomunikasi melalui perbincangan Intelektualitas satu hal yang menarik adalah ini bisa dijadikan sebuah  refleksi bersama   tentang  sebuah arti Fraternitas dan ini adalah buah terindah dari Kristianitas. 

Melalui momentum Dies Natalis ini mari kita sama-sama bersinergi baik Pastor Moderator, Dewan Pertimbangan, Anggota Penyatu, Pendamping dan seluruh anggota PMKRI Cab.Palangka Raya agar bisa peduli, bella rasa, dan bertanggung jawab untuk kemajuan perhimpunan menuju hal yang lebih baik. Ahir kata Dirgahayu Perhimpunanku jaya selalu di udara dan di darat serta bisa memberikan kader yang terbaik untuk Bangsa dan Negara dan yang paling penting adalah untuk Gereja dan Tanah Air.
                                   
Religio Omnium Scientiarum Anima
Pro Ecclesia et Patria!!!

Penulis: Yakobus Lukivantura (Presidium Hubungan Perguruan Tinggi PMKRI Cab. Palangka Raya)