Sunday, November 6, 2022

Misa Pengukuhan, pesan dari Uskup sekaligus Refleksi Hari Sumpah Pemuda

Sudah menjadi rahasia Umum keragaman Indonesia penuh dengan warna yang tidak dapat dimanipulasi.


Jumlah Penduduk Indonesia sekitar lebih dari 275 Individu menyebar ke seluruh Indonesia dari Sabang sampai Merauke mendiami wilayah yang memiliki kondisi geografis yang beragam, mulai dari pegunungan, pesisir pantai, tepian hutan, dataran rendah, dataran tinggi, pedesaan hingga perkotaan.


Tak berhenti sampai disitu, keberagaman di Indonesia bukan hanya perihal budaya melainkan juga agama dan keyakinan-keyakinan transendental, tata cara, pola pikir, kebiasaan-kebiasaan dan juga interaksi antar masyarakat. Betapa beragamnya masyarakat Indonesia membuat anggotanya tidak mudah menghindari gesekan dalam konflik kehidupan antar masyarakat.


Pada momentum pengukuhan Pengurus PMKRI Cabang Palangka Raya "Sanctus Dionisius" Periode 2022-2024 (05/11/2022)


Mgr. Aloysius Maryadi Sutrisnaatmaka M.S.F Uskup Keuskupan Palangka Raya dalam kesempatan pengukuhan pengurus PMKRI Cabang Palangka Raya Periode 2022-2024 menyampaikan pesan terakait refleksi sumpah pemuda yang ke-94 pada tahun 2022.


Mgr. Aloysius menyampaikan bahwa mnyangkut para pengurus dan anggota PMKRI dengan semboyan yg sama Pro Ecclesia Et Patria (untuk Gereja dan tanah air) oleh karena itu saya menegaskansl sebagai kaum muda, tentu memiliki sekian banyak keinginan bahkan antusiasme, oleh karenanya kebersamaan dalam gereja sendiri (Interen) dan didalam masyarakat Extern kehidupan bersama harus disatukan yang menjadikan kesejahteraan, perdamaian dan ketentraman itu bisa dicapai.


Oleh karenanya dikaitkan dengan pemuda PMKRI, kita berjuang dengan 100% Katolik 100% Indonesia, tapi saya mengaitkan 100% Mahasiswa dalam tanda kutip statusnya transisi tidak boleh menjadi mahasiswa yang abadi, itu catatan pertama secepatnya diselesaikan dengan waktu yang telah ditargetkan yaitu 8 smesetar.


Kesempatan dalam ber-PMKRI sepertinya bertemu dengan berbagi teman, rekan dari seluruh Indonesia, itu menunjukkan bahwa kehidupan kita ini tidak pernah lepas dari keberagaman dan karena itu, sumpah untuk menjadi satu dengan berbagai cara.


Oleh karenanya Pro Ecclesia Et Patria dalam arti tertentu yang menjadi semboyan dari PMKRI itu bukan hanya kata indah atau sebuah wacana tapi untuk dilakukan.


Bahkan saya mengutip dari Galatia 5 : 20 Kita harus menghasilkan buah-buah : ialah kasih sukacita, damai sejahtera, kebaikan, kesetiaan dan penguasaan diri*, kalau kita bisa melaksanakan itu, kita memberikan sumbangan yang dalam sumpah pemuda itu yang diharapkan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.


Persobalitas PMKRI itu tidak boleh hanya di kampus saja, secara intelektual bisa menjadi berimbang seperti menara yang tinggi, indah nan elok diatasnya tapi tidak membumi. Sehingga dalam konteks menjadi mahasiswa harus terjun langsung ke Masyarakat dan masalah-masalah lainnya.


Jangan terujun ke masalah-masalah lalu menjadi masalah kemudian tidak menyelesaikannya.


Namun di bangku kuliah juga jangan sampai ketinggalan "itu juga yg saya tegaskan"


Sebagai anak zaman sekarang sekaligus anak masyarakat harus mampu untuk bentuk atau pola tingkah laku dan sebagi sekaligus menjadi bentuk atau gaya berpikir. 

Mahasiswa harus memikirkan hal-hal yang membawa kemajuan baik itu dalam bidang pendidikan maupun dalam bidang kemasyarakatan, dari situlah saya menyimpulkan bahwa personalitas atau kepribadian mahasiswa itu ditentukan oleh dua unsur.

Pertama intrinsik berkaitan kepribadian mahasiswa dan dari situlah kita bisa mengetahui bahwa setiap orang itu berasal suku tertentu, bahasa tertentu dan budaya tertentu itu yang disebut cerminan intrinsik yang tidak bisa kita tolak yang sudah diberikan oleh Tuhan dengan segala DNA nya kita tidak bisa menolak itu.


Kemudian yang kedua adalah berkaitan dengan Extinsik yaitu lingkungan, dimana mahasiswa itu dibagi dua : lingkungan sosial politik, social culture, sosial Ekonomi pada umumnya dan yang kedua Lingkungan Universitas Perguruan tinggi.


Oleh karena itu sebagai saran sebagai mahasiswa harus kritis, korentif dan memasyarakat.

Salah satu ciri kaum terpelajar bahwa, setiap Mahasiswa tidak boleh berhenti berpikir tentang segala sesuatu. 

Itulah ciri khas mahasiswa, berani berpikir banyak hal untuk direnungkan, diteruskan dan seterusnya.


Seorang Mahasiswa ketika sudah menyelesaikan menjadi generasi baru untuk kepemimpinan.

Bukan tentang apa yang saya peroleh dari negara melainkan apa yang saya sumbangkan untuk negara, demikian juga PMKRI sebagai menghayati Sumpah Pemuda marilah kita berfikir apa yang bisa kita sampaikan, kita sumbangkan untuk persatuan dan kesatuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ini. Tutup dari orang nomor satu Keuskupan Palangka Raya tersebut.

Rahel Dewi Sartika, ketua presidium PMKRI Cabang Palangka Raya mengatakan kaum milenial atau pemuda atau apa saja sebutan bagi kaum muda ini   harus menjadi agen toleransi masa kini dan masa depan, mereka harus menjadi duta Pancasila di dalam kehidupan mereka sehari-hari dalam perjumpaan dengan siapapun di dunia nyata maupun di dunia maia. Karena mereka akan menjadi masa depan bangsa ini. Jika pemudanya mempunyai sikap toleransi, mampu menghargai perbedaan suku, agama, ras dan lain-lain maka Indonesia menjadi "rumah" yang nyaman bagi semua orang. 


Rahel menambahkan bahwa media sosial merupakan sarana strategis untuk memperjuangkan deradikalisasi. Sehingga dalam momentum sumpah pemuda ini Rahel mengajak kaum muda yang kehidupannya lebih banyak di media sosial, untuk berani memposting hal-hal yang positif, keberagaman, persatuan, dan toleransi serta tidak mudah digiring oleh konten dan kabar bohong yang mengancam persatuan dalam kebhinekaan.


Dalam kesempatan yang sama Marselinus Darman (Marselino) selaku Presidium Gerakan Kemasyarakatan (PGK) Periode 2022-2024 menegaskan dalam momentum Sumpah Pemuda yang ke 94 dengan mengangkat tema : Bersatu Bangun Bangsa ini bukan hanya sekedar kata indah atau sebuah semboyan semata tetapi diaktualisasikan, selaras dengan tema yang diangkat oleh PMKRI Cab. Palangka Raya dalam merefleksikan sumpah pemuda tahun ini "Sumpah Pemuda Dulu, Kini dan nanti"

Tema ini diangkat berangkat dari sebuah Keresahan melihat dewasa ini kerap kali muncul beragam konflik, terlebih muncul dari pihak yang tidak memahami kamajemukan dalam kehidupan berbangsa yang seharusnya bentuk dari keharmonisan.

Banyak contoh kejadian yang terjadi karena perkara tersebut, padahal kesadaran dan kamajemukan budaya yang berbeda memungkinkan untuk saling mempelajari cara-cara berkomunikasi, budaya, culture yang unik sehingga semangat keberagaman tuntas dan menjadi lebih harmoni.

Maka dari itu pada kesempatan ini kami mengharapkan seluruh pemuda dalam hal keberagaman dalam bentuk apapun itu, dijadikan sebuah kekayaan yang merupakan Cerminan dari Bhineka Tunggal Ika yang berarti berbeda-beda tetapi satu jua yang menjadi mutlak bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.


Dan sangat rugi ketika pemuda hari ini menganggap perbedaan/keberagaman menjadi sebuah pembatasan atau sebuah hama, tentu bukan itu pemuda yang diharapkan atau yang dicita-citakan oleh negeri ini. Imbuhnya 



Penulis MARSELINUS DARMAN

*Presidium Gerakan Kemasyarakatan (PGK) PMKRI Cab. Palangka Raya)*

Previous Post
Next Post

0 comments: