Friday, October 13, 2023

Gerakan Cipayung Sangkal Bersama Bangkal Kepung Markas Polda Kalteng

Gelombang unjuk rasa peduli tragedi kemanusian di desa Bangkal, Kabupaten Seruyan Kalimantan Tengah. Terus berdatangan, kali ini unjuk rasa di depan Polda Kalteng di gelar oleh kelompok Cipayung Plus Kota Palangka Raya, pada Kamis 12 Oktober 2023. 

Aksi unjuk rasa memprotes tindakan refrensif oknum kepolisian yang menyebabkan korban jiwa di Desa Bangkal Kabupaten Seruyan beberapa waktu lalu terus berdatangan. Kali ini unjuk rasa di gelar oleh kelompok mahasiswa dari Cipayung Plus Kota Palangka raya. 

Aksi yang mereka namai dengan "Gerakan Cipayung Sangkal" itu di ikuti oleh beberapa lembaga di antaranya PMKRI, GMKI, GMNI, IMM, KAMMI, KMHDI, dan LMND. 

Masa yang semula berkumpul di depan kantor TVRI jalan Yos Sudarso, Kota Palangka Raya. Berjalan kaki menuju depan Polda Kalteng Jl Tjilik Riwut, dengan iring-iringan lagu Mars Mahasiswa yang diselingi dengan teriakan "Hidup Mahasiswa, Hidup Rakyat Indonesia, Merdeka... merdeka... merdeka" semua itu buka tampa alasan, namun sebagai bentuk kepedulian, semangat dan kegeraman masa aksi atas tragedi pilu yang menimpa warga desa Bangkal hingga menghilangkan satu nyawa yang tak sebanding harganya dengan nilai plasma 20 persen.



Sesampainya di depan Polda Kalteng, masa kemudian membentangkan sepanduk yang berisikan tulisan-tulisan tetang kekecewaan kepada pihak kepolisian (yang barang kali lebih aman jika kita disebut Oknum Kepolisian). Dari salah satu sepanduk terdapat tulisan yang berbunyi "COPOT KAPOLDA KALTENG". Tak hanya itu pada aksi kali ini, masa juga membakar ban bekas sembari bergiliran orasi dari setiap lembaga yang hadir untuk menyampaikan aspirasi, sesekali masa juga meneriakkan "bidik kepalanya, bidik", seolah-olah sebagai bentuk tantangan dan sindiran dari kearoganan petugas saat di lapangan dalam mengamankan Aksi masyarakat desa Bangkal di PT HMBP beberapa waktu lalu.

Di balik asap hitam dari ban bekas yang di bakar para pengunjuk rasa di depan polda kalteng, berdiri perempuan dengan jas merah marun yang sedang menggenggam erat alat pengeras suara, yang tak lain srikandi Rahel Dewi Sartika Ketua Presidium PMKRI Cabang Palangka Raya, yang dengan tegas dalam orasinya mempertanyakan kesetiaan oknum polisi tersebut terhadap tribrata dan catur prasetya yang mereka ucapkan sebagai pedoman hidup Polri. 

"Mereka yang seharusnya bersama-sama dengan kita melawan kelaliman, kini mereka mengkhianati kita. Tidak ingatkah tribrata dan catur prasetya yang kalian ucapkan? Untuk senantiasa mengayomi, melindungi, Dan Melayani Masyarakat Dengan Keikhlasan Untuk Mewujudkan Keamanan Dan Ketertiban. Untuk menjunjung tinggi kemanusiaan? Dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa? " Kata Rahel dalam orasinya. 

Selain itu Rahel juga meminta, agar kasus ini segera di usut secara tuntas dan pelaku penembakan segera di proses secara hukum positif yang berlaku di NKRI.


Setelah setiap lembaga selesai berorasi, jubir dari gerakan cipayung sangkal itupun membacakan poin tuntutan, di antaranya : 

1. Mendesak Kapolri untuk mengusut tuntas dan terbuka serta menghukum seberat-beratnya pelaku penembakan dan oknum aparat yang mengintruksikan " Bidik Kepalanya" 

2. Mendesak Kapolri untuk mencopot Kapolda Kalimantan Tengah dan Kapolres Seruyan yang lalai dalam mengawasi anggota di lapangan atas terjadinya pelanggaran HAM. 

3. Menuntut pihak kepolisian tidak melakukan penambahan anggota untuk menghindari konflik yang lebih besar. 

4. Mendesak kapolri untuk mengevaluasi kinerja internal kepolisian. 

Usai membacakan poin tuntutan masa juga memberi ultimatum 3×24 jam, jika apa yang mereka sampaikan tidak di laksanakan, maka aksi akan di lakukan lagi di hari senin dengan membawa masa yang lebih besar. adapun dalam aksi ini di kawal ketat oleh personel kepolisian dari Polresta Palangka Raya. 



FARDOARI REKETNO (BIRO RISET DAN PENELITIAN)

Previous Post
Next Post

0 comments: