Tuesday, November 9, 2021

Resensi Buku : SENI HIDUP MINIMALIS

 


Judul                  :    Seni Hidup Minimalis

Pengarang        :    Francine Jay

Penerjemah       :    Annisa Cinantya Putri

Penerbit             :    Gramedia Pustka Utama

Tahun terbit       :    2019 (cetakan ke-3)

Tebal buku        :    iii + 260 hlm

Cover                 :    Soft cover

Buku Seni Hidup Minimalis ini berisi tentang seluk-beluk hidup minimalis, mulai dari pola pikir hingga kiat-kiat hidup minimalis. Minimalis yang dimaksud dalam buku ini adalah hidup dengan cara kita yang mengendalikan barang-barang yang kita miliki. Kita yang menyeleksai barang-barang mana yang kiranya memang benar-benar dibutuhkan untuk berada di rumah. Kita menciptakan rumah yang memberi kita banyak ruang, tidak penuh dengan barang-barang, sehingga memberikan kita lebih banyak kebebasan dan kebahagiaan.

Dari buku " Seni Hidup Minimalis" karya Francine Jay dikatakan bahwa ada tiga kategori barang yaitu barang fungsional (barang yang berguna dalam kehidupan sehari-hari kita. Misalnya handuk, baju, tas dll ) barang dekoratif dan barang emosional.

Ada empat bagian dalam buku ini, bagian pertama tentang membentuk pola pikir minimalis. Bagian kedua tentang kiat-kiat memulai hidup minimalis dengan metode STREAMLINE. Bagian ketiga membahas tentang mengatur ruangan agar tidak penuh dengan barang. Bagian keempat adalah cara hidup minimalis dan manfaatnya untuk kehidupan kita dan lingkungan sekitar.

Kita harus memilah dan memilih ketiga hal ini. Semua barang kita pertanyakan kembali, jika tidak ada nilai dari ketiga hal tersebut maka lebih baik dibuang saja. Namun ingat agar barang itu berguna adalah ya barang itu kita gunakan. Kebiasaan salah kita adalah banyak barang yang bisa jadi berguna tetapi tidak kita gunakan. Untuk itu kita bisa memulainya dengan berkenalan kembali dengan barang-barang kita.

Membaca buku Seni Hidup Minimalis memberikan kita pandangan baru mengenai gaya hidup. Buku ini mengajarkan kita untuk hidup lebih bahagia dan menjaga alam dengan memiliki sedikit barang. Apalagi bagi kita yang masih suka belanja impulsif tanpa memperhatikan itu kebutuhan atau sekedar keinginan. Selain itu, buku ini juga memberikan tips-tips agar kita tidak tergoda untuk sering belanja barang baru tapi masih menimbun barang yang lama.

Buku ini cocok untuk dibaca segala umur dan menjadi bacaan untuk anggota keluarga. Dengan mengajak anggota keluarga untuk membaca buku ini, maka sinergi untuk hidup minimalis akan terbangun di rumah. Atau bisa juga menjadi teman ketika dalam perjalanan atau saat sedang santai-santai sambil minum teh. Buku ini juga cocok dibaca oleh orang-orang yang suka berbelanja banyak barang.

Dari tampilan fisik buku ini memang patut diacungi jempol, dengan kombinasi warna kuning dan warna netral (hitam dan putih) membuat kesan menarik dan mencolok. Apalagi tidak banyak ornamen pengganggu di sampul depan belakangnya. Sehingga cukup mewakili orang minimalis hanya dari covernya.

Buku ini mengajarkan step by step menjadi orang minimalis. Tidak seperti buku lain yang langsung ke poin, buku ini akan menggiring kita dari titik paling bawah. Yaitu mindset orang minimalis. Dari mindset minimalis kita akan digiring dengan konsep-konsep dasar minimalis. Dan sampai pada akhirnya menjadi orang minimalis seutuhnya.

Dari segi layout buku, ada satu hal yang aku garis bawahi. Yakni kurang adanya editing dari sisi kalimat sambung, sehingga penggunaan “-“ sangat banyak di akhir margin. Itu sangat mengganggu saat aku membaca. Biasanya, penulis akan erevisi bagian ini, karena memang kurang enak dilihat. Selain itu, ada beberapa kata yang ditekankan, aku sangat suka dengan ide itu. Lumayan, bisa untuk bahan caption di Instagram.

Secara keseluruhan buku ini mengajarkan kita bagaimana memahami minimalist sebagai budaya yang akan kita lakukan sehari-hari, atau bahkan sampai generasi ke generasi. Ada persepsi yang salah tentang minimalis dari kebanyakan orang, yakni menganggap minimalis adalah mencukupkan sesuatu yang sudah cukup. Haduh, gimana ya. Minimalis adalah ruang dan cukup. Bukan berarti mencukupkan sesuatu dalam suatu ruang. Tapi memberi ruang pada sesuatu yang dianggap cukup. Faham gak?

Intinya, minimalis dalam buku ini mengajarkan kita bahwa setiap barang dan diri kita sendiri membutuhkan ruang. Ruang tersebut jangan terlalu disempitkan dengan barang-barang yang tidak terlalu memiliki nilai guna, kecuali barang artistik.

Jadi, jika kamu ingin menjadi orang minimalist, buku ini sangat rekomendasi. Kamu bisa membelinya di toko-toko buku terdekat atau di Gramedia terdekat. Cukup murah kok, bawa uang 100k pasti ada kembaliannya. Cukup untuk beli mie ayam.

Yang menurut saya kurang di buku ini adalah pada bab terakhirnya, yang saya rasa sedikit memaksakan saat menjelaskan tentang dampak gaya hidup minimalis pada masyarakat dan alam. Meskipun premis premisnya masih dapat diterima dan logis tapi tidak tahu mengapa saya kurang begitu suka pembahasan terkait dampak pada masyarakat dan alam ada dalam buku ini, kurang pas gitu dan menjadikan buku ini sedikit kehilangan fokusnya. Oia dalam membahas cara berbenah masim masing ruangan juga menurut saya agak monoton sih jadi sedikit membosankan di tengah.

Saya rasa itu saja opini saya terhadap buku ini. Secara umum saya suka buku ini menurut saya nilainya 4 dari lima lah. Dan bila ada yang berminat untuk berbenah rumah ataupun sudah jengah dengan riuhnya barang barang di rumahnya, ada baiknya bila membaca buku ini terlebih dulu.

 

Penulis, Yuana

Editor, Crew Suara Dionisius

Previous Post
Next Post

0 comments: