Saturday, October 23, 2021

Resensi Buku : Jesus Today, Spiritualitas Kebebasan Radikal

 

Judul Buku     : Jesus Today, Spiritualitas Kebebasan Radikal

Penulis Buku   : Albert Nolan

Pengarang       : Albert Nolan

Penerbit Buku : Kanisius

ISBN                 : 978-979-21-2420-0

Tahun Terbit   : 2009

 

Buku ini sungguh-sungguh segar dan menggetarkan. Di sebuah dunia yang haus akan spiritualitas, kepada kita ditawarkan sebuah spiritualitas yang berdasarkan pada hidup Yesus, spiritualitas-Nya sendiri. Spiritualitas tersebut pertama-tama spiritualitas kemerdekaan yang radikal. Albert Nolan memaparkan mengenai kebebasan serta spiritualitas berdasarkan tindakan-tindakan Yesus dalam kehidupannya. Berangkat dari permasalahan individualisme dan krisis spiritualitas, nolan memperlihatkan kebebasan dan spiritualitas merupakan kebutuhan dasar dari manusia. Kebebasan dan spiritualitas tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Nolan juga menjelaskan bahwa berbagai perkembangan dalam dunia IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) tidak dapat memuaskan manusia untuk menemukan kebebasan atau spiritualitas. pencarian akan spiritualitas dan kebebasan merupakan kebutuhan bagi seorang manusia.

Albert Nolan melihat Yesus sebagai suatu sosok yang memperlihatkan bagaimana spiritualitas dan kebebasan itu bagi Nolan, tindakan-tindakan Yesus dalam cerita di alkitab memperlihatkan bagaimana Yesus mengejawantahkan bagaimana spiritualitas dan kebebasan itu. Tindakan-tindakan Yesus yang radikal menjadi bukti dari kebebasan dan spiritualitas. Nolan menjelaskan bahwa tindakan-tindakan tersebut menembus batas-batas yang ada di dalam masyarakat pada masa Yesus hidup. Spiritualitas Yesus ada dasar dari tindakan-tindakan tersebut. Bagi Nolan, Yesus memahami dengan baik relasinya dengan Tuhan. Relasi antara Yesus dan Tuhan bukanlah relasi yang jauh melainkan suatu relasi yang intim. Keintiman relasi itu terlihat dari cara Yesus memanggil Tuhan dengan sebutan abba (bapa).

Berdasarkan sosok Yesus, Nolan menjelaskan bahwa manusia memiliki spiritualitas dan kebebasan didalam dirinya. Nolan juga mengatakan bahwa manusia dapat melakukan tindakan-tindakan yangradikal seperti yang Yesus lakukan dalam kehidupannya. Namun demikian, ada penghalang bagimanusia untuk mengejawantahkan spiritualitas dan kebebasan tersebut di dalam kehidupannya.penghalang tersebut adalah berbagai kelekatan yang melekat pada diri manusia. Kelekatan ini bisa nyata dalam berbagai bentuk seperti kekayaan, jabatan, pekerjaan, dan berbagai hal lain yang mengikat manusia di dalam kehidupannya. Kelekatan-kelekatan ini didasarkan pada egosentrisme dan super ego manusia itu sendiri. Nolan menjelaskan bahwa kelekatan-kelekatan ini menyebabkan manusia takut untuk menyatakan spiritualitas serta kebebasan yang ada di dalam dirinya.

Bagi Nolan, rasa takut ini merupakan perasaan yang wajar dimiliki oleh seorang manusia. Namun demikian, perasaan takut ini tidak boleh menguasai manusia itu justru manusia harus mampu mengontrol rasa takutnya. Dengan demikian, manusia dapat mengejawantahkan spiritualitas dan kebebasan seperti yang Yesus lakukan. Nolan memaparkan bahwa kebebasan yang dimaksud bukanlah kebebasan yang melepaskan kelekatan-kelekatan tersebut. Dalam hal ini, nolan melihat bahwa bebas tidak berarti lepas dari konteks di mana manusia itu berada. Seringkali yang dipahami adalah dunia ini berdosa dan tidak dapat diperbaiki lagi sehingga umumnya orang memilih untuk pesimis melihat dunia ini. Nolan melihat bahwa pandangan ini adalah keliru. Bagi Nolan, dunia ini masih mampu diperjuangkan.

Nolan melihat ini di dalam tindakan-tindakan radikal Yesus. Yesus mengasihi seisi dunia ini karena dunia ini dan seluruh isinya merupakan ciptaan Tuhan. Ia menyadari bahwa relasi-Nya dengan Tuhan membuat ia harus berbuat sesuatu untuk dunia ini dan tidak ada yang dapat menahan Yesus untuk memperlihatkan kasih-Nya untuk dunia ini. Bagi Nolan, ini adalah salah satu bukti kebebasan radikalyang dimiliki Yesus. Selain itu, manusia sebagai makhluk sosial berarti bahwa spiritualitas dan kebebasan yang ada di dalam diri manusia itu tidak hanya untuk dirinya sendiri. Nolan menjelaskan bahwa manusia yang memiliki kebebasan itu haruslah membebaskan seluruh ciptaan Tuhan.Manusia adalah makhluk sosial. Bagi Nolan, spiritualitas Yesus didasarkan pada keintiman relasiYesus dengan Tuhan.

Keintiman ini menyebabkan Yesus menyadari bahwa Ia bebas untuk menjalankan kehendak Bapa-Nya di dunia ini. Yesus menyadari kesatuan-Nya dengan Tuhan. Hal ini dapat kita temukan dalam berbagai pernyataan Yesus di Alkitab bahwa ia dan Bapa-Nya adalah satu. Relasi ini tidak hanya terjadi begitu saja, tetapi Yesus menjalin relasi ini terus menerus. Salah satucara Yesus menjalin relasi-Nya dengan Tuhan adalah melalui keheningan. Bagi Nolan, Yesus selalu menyediakan waktu untuk berbicara kepada Tuhan di dalam keheningan. Salah satunya contohnya adalah ketika Yesus berdoa di Taman Getsemani. Keheningan merupakan salah satu metode yangd ipakai Yesus untuk berkomunikasi dengan Bapa-Nya.

Nolan memperlihatkan bahwa keheningan menjadi suatu metode yang efektif untuk menjalin komunikasi dengan Tuhan. Kesatuan adalah salah satu pembahasan yang ditekankan nolan dalam bukunya. Kesatuan menjadi dasar dari kebebasan. Bagi Nolan, kesatuan juga merupakan bentuk spiritualitas. Bagi Nolan, manusia memiliki kesatuan dengan Tuhan, dengan diri sendiri, dengan sesama manusia, dan dengan alam semesta. Kesatuan dengan Tuhan berarti bahwa manusia dan Tuhan adalah satu. Kesatuan ini dipahami sebagai suatu relasi yang intim layaknya relasi Yesus dengan Bapa-Nya. Tuhan bukanlah sosok yang jauh. Ia merupakan sosok yang dekat. Manusia mengenal Tuhan melalui istilah-istilah personal yang muncul dalam pengalaman manusia berelasi dengan Tuhan.

Kesatuan dengan diri sendiri berarti bahwa manusia bisa berdamai dengan dirinya sendiri. Berdamai berarti bahwa manusia dapat mencintai dirinya. Namun, tidak berarti manusia itu menjadi ego sentris. Mencintai diri sendiri berarti mencintai diri manusia itu secara keseluruhan. Nolan menilai bahwa paham dualisme merupakan paham yang keliru. Bagi Nolan, Tubuh tidak selalu mempunyai konotasi negatif. Mencintai diri sendiri juga berarti manusia memeluk keunikannya baik kelemahan maupun kelebihannya. Nolan bahkan memaparkan bahwa manusia mampu memeluk kematiannya karena kematian merupakan tantangan bagi manusia. Kesatuan dengan sesama manusia berarti seluruh umat manusia merupakan keluarga.

Keluarga yang lebih dari sekedar ikatan darah. Keluarga yang disatukan karena kita semua merupakan ciptaan Tuhan. Nolan menjelaskan bahwa manusia menemukan dirinya sendiri di dalam relasi dengan sesamanya. Manusia tidak dapat mengenal dirinya jika ia tidak berelasi dengan sesamanya. Kesatuan dengan alam semesta berarti bahwa manusia berelasi dengan alam semesta sebagaimana manusia berelasi dengan Tuhan. Tuhan menciptakan alam semesta danmengasihi setiap bagian dari alam semesta. Bagi Nolan, Yesus memang tidak hidup di masa di mana pabrik dan teknologi sudah berkembang seperti sekarang. Namun demikian, Yesus mengerti bahwaalam merupakan ciptaan Bapa-Nya.

Kesatuan Yesus dengan alam semesta didasarkan pada keintiman relasi antara Yesus dengan Bapa-Nya. Kebebasan mempunyai tujuan. Bagi Nolan, kebebasan radikal yang dimiliki Yesus tidak dimengejawantahkan demi dirinya sendiri. Yesus memperlihatkan kebebasan itu demi kehendak Bapa-Nya bagi dunia ini. Nolan menjelaskan bahwa kehendak Tuhan merupakan sebuah kepentingan bersama bagi seluruh umat manusia. Namun demikian, kepentingan bersama tidak berarti mengabaikan kepentingan individu di dalamnya. Kepentingan bersama berarti bahwa kepentingan individu pun ikut terangkul di dalamnya.

Kelebihan Buku

Buku ini sangat menarik untuk di baca dan pembahasan di dalam buku ini sangat mudah untuk dipahami dan juga memberi inspirasi

Kekurangan Buku

Kalimat kurang efektif, dan ada beberapa kata yang diulang-ulang sehingga pembaca harus lebih teliti dalam membaca

Penulis, Laurentia Engelina Pia

Editor, PRT PMKRI Cab. Palangka Raya

Previous Post
Next Post

0 comments: