Tuesday, March 21, 2023

MORA KEBIASAAN KOKOR TAGO ATAU GOTONG ROYONG ONE MANGGARAI

 


Bahasa Manggarai

Manggarai Hitu adalah ca daerah di provinsi Nusa tenggara timur Indonesia ho,o, Manggarai Hitu dibagi telu kabupaten, ca kabupaten Manggarai, Manggarai barat agu Manggarai timur, jadi telu kabupaten ho ca cama Kalis adat agu budaya ata kental ketas ata wa-wa na,as latang weki Manggarai agu toe hanang Hitu do kid ata unik one daerah ho,o neho kota ces agu do daerah wisata agu toe Kole manga kalah lau Eropa. Poli Hitu ga weki Manggarai so,o sebagian mata pencaharian dise Kole ga petani. Tapi one may do Bora agu unik one may daerah Manggarai ho,o gh manga ca kebiasaan data Manggarai danong ata Mora Keta gi pengaruh toe mnga pake Kole le uwa WERU ho,o gha yaitu istilah "KOKOR TAGO" eme terjemah one bahasa Manggarai yaitu "GOTONG ROYONG" jadi kebiasaan Kokor Tago Hitu pake lata tua danong one Manggarai pas eme manga ata kudut pande Mbaru agu petak sawah, jadi ca beo Hitu bantu ata Hitu, terus gh persiapan data bantu Hitu gh siap Ela can agu paeng sot nganceng mbele. 

Terus gh sejarah atau kebiasaan ho,o danong pengaruh pada zaman hitu toe manga seng, mose data ata Manggarai do ata lengge tapi gah ata Manggarai do piara paeng neho ela, kaba, jarang agu penong kid piara paeng dise. Poli Kole Hitu semua kepala keluarga one beo Hitu one Taung bantu agu ba hang terus ata siap pareng agu ute gah ata ngara kerja Hitu. Jadi kebiasaan nenggo sebenar gah tetap Ite rawat kudut bantu cama-cama ca beo hitu agu Rantang mose hanangkoe one lino tapi pengaruh Zaman ho,o Kole Leng Keta majun sehingga weki Manggarai nganceng bayar ata kudut pande Mbaru agu petak sawah.


Bahasa Indonesia

HILANGNYA KEBIASAAN KOKOR TAGO ATAU GOTONG ROYONG DI MANGGARAI


 Manggarai merupakan salah satu daerah yang ada di provinsi Nusa Tenggara Timur Indonesia yang dimana daerah ini bagi menjadi Tiga Kabupaten yaitu kabupaten manggarai, kabupaten manggarai Barat dan kabupaten manggarai Timur. Dari ketiga kabupaten ini mempunyai kesamaan adat dan budaya yang sangat kental yang diwariskan secara turun temurun kepada masyarakat manggarai serta banyak sekali keunikannya dari daerah ini, seperti kota dingin dan tempat pariwisatanya yang banyak tak kalah di Eropa. Kemudian yang dimana sebagian masyarakat manggarai mata pencahariannya bertani dan berkebun. Tetapi dibalik kekayaan dan keunikan dari daerah manggarai ini ada satu kebiasaan orang manggarai zaman dahulu yang sudah hilang dan tidak lagi dipakai oleh masyarakat manggarai zaman sekarang ini yaitu istilah “KOKOR TAGO” yang kalau di terjemahkan dalam bahasa Indonesia yaitu “GOTONG ROYONG”. Jadi kebiasaan kokor tago ini awal mulanya dipakai oleh nenek moyang manggarai ketika ada salah satu dari masyarakat manggarai membuat rumah atau petak sawah, jadi semua orang dalam satu kampung tersebut membantu dalam membuat rumah atau petak sawah ini dan Persiapan dari tuan rumah yang dibantu oleh masyarakat yang lain itu menyiapkan berupa makanan dan lebih pentingnya lagi kebiasaan orang manggarai yaitu membunuh seekor babi atau bisa juga dengan hewan yang lain yang bisa di sembelih. 

Jadi sejarah budaya atau kebiasaan ini dahulu dilakukan karena pada saat itu krisis ekonomi dalam hal ini finansial, orang manggarai tidak tercukupkan tetapi mereka kaya akan hewan yang mereka pelihara seperti kerbau, babi, kuda dan lain sebagainya. Setiap keluarga yang ikut dalam gotong royong tersebut (kokor tago) akan membawa berupa nasi, karena yang menyediakan lauk pauk dan sayur adalah orang yang dibantu oleh masyarakat satu kampung tersebut. Jadi kebiasaan seperti ini sebenarnya tetap kita pertahankan karena kebersaman itulah yang bisa menyatukan di setiap perbedaan tetapi Pada zaman sekarang kebiasaan tersebut sudah punah karena perkembangan zaman yang begitu maju sehingga dari segi finansial masyarakat manggarai bisa dikatakan mampu untuk membayar orang dengan cara pakai uang untuk meyelesaikan pekerjaan tersebut. Jadi sungguh disayangkan jika kebiasaan seperti ini tidak bisa kita jaga dan dipertahankan sebagai suatu budaya atau kebiasaan.


#harimasyarakatadat

#lombamenulis

#opini

Penulis

Valentino Tabang

Previous Post
Next Post

0 comments: