Saturday, April 4, 2020

DI BALIK PUTUT NONOK




 Obi Seprianto

"Dibalik pohon, mata bercahaya tengah malam tidak lagi terlihat, hilang tergerus dan hanyut dalam zaman moderenisasi. Miopia pun sudah menyelimuti masyarakat setempat sehingga mata bercahaya yang takut dengan manusia"


Simpang Naneng adalah salah satu nama Desa yang berada di tengah Kabupaten Barito Timur, Provinsi kalimantan tengah yang berbatasan langsung dengan Desa Dayu dan Desa Kandris. Tentunya posisi Desa Simpang Naneng sangat strategis, disebabkan jalan rayanya yang digunakan masyarakat sehari-hari, juga sebagai  jalan lintas antar Provinsi dan antar Kabupaten/Kota. Tentu sudah dapat dipastikan selain jumlah masyarakatnya, rumah / bangunan selalu meningkat setiap tahunnya, selalu terjadi juga perjumpaan ataupun melihat hal-hal yang sifatnya baru ditemukan. Hal baru yang dimaksud seperti fashion dalam berpakaian, mengetahui merek dan kegunaan make up (kaum hawa) ,level/tingkatan kelas makanan orang kota tidak menjadi hal yang tabu, aksesoris, handphone dan standar orang dikatakan sukses tidak absolut lagi, serta membuka  pola berpikir masyarakat menjadi dinamis dan senantiasa menerima perubahan .bahkan tanpa disadari masyarakat setempat ada yang menelan mentah-mentah perubahan tanpa disharing terlebih dahulu. Tidak terkecuali cerita mistik yang berkembang ditengah masyarakat dan diakui, sekarang mengalamai perubahan ke arah kemunduran (ketidak percayaan) dikalangan masyarakat “sekarang kabur dari penglihatan bahkan sunyi dari pendengaran”.


Ketika melewati jalan lintas Kota Tamiang Layang – Kota Ampah di Kabupaten Barito Timur dapat dipastikan melewati Desa Simpang Naneng . Tanpa disadari, mereka telah melintasi salah satu tempat yang dapat membuat jantung berdetak lebih cepat dari biasanya. letaknya berada ditengah Desa Simpang naneng dan tepatnya disamping kiri dan kanan kantor Desa tersebut , terdapat  sebuah hutan  yang masih asri dan terawat dipenuhi  pepohonan yang berukuran sedang dan besar. Hutan tersebut biasa dipanggil masyarakat asli Desa Simpang Naneng  dengan sebutan Putut Nonok dalam bahasa indonesia  Pohon beringin, karena didalam hutan tersebut terdapat pohon beringin yang besar sebagai simbol/tanda hutan tersebut, Hutan tersebut merupakan lahan milik kepala Desa Simpang Naneng sekarang.


Memang banyak sekali cerita yang disambung dari mulut ke mulut (tutun temurun) di tambah beberapa pengalaman saya sebagai masyarakat asli Desa Simpang Naneng, memang banyak kejadian aneh diluar daya nalar kita sebagai manusia.  mulai dari kecelakaan tunggal, tabrakan sampai ada yang ditabrak mengakibatkan orang meninggal dunia kejadian tersebut terjadi dalam beberapa tahun dibelakang. Dari peristiwa yang terjadi tidak ada yang dapat menjawab atau menguraikannya secara spesifik dan mudah dimengerti  bagaimana yang terjadi sebenarnya atas kejadian disekitar hutan Putut Nonok Desa Simpang naneng Kab. Barito Timur.


Berangkat dari pengalaman saya tentang Hutan Sekitar Putut Nonok/Pohon Beringin. Waktu masih berusia  15 tahuan tepatnya menginjak kelas 2 SMP, pada  malam harinya seperti biasa setelah selesai ibadah orang muda kami kumpul sejenak khusus anak laki-lakinya untuk bercerita dan membahas apa yang ingin dilakukan. Tiba-tiba salah satu diantara kami mengusulkan untuk mencari buah taitungen atau “durian hutan berukuran kecil dengan duri yang lebih rapat” ,karna waktu itu bertepatan musim buah di Desa Simpang Naneng  dan desa-desa lainnya. Tepatnya letak kami mencari disekitar hutan Putut Nonok karena disana terdapat banyak pohon taitungen yang tumbuh. Mendengar  usulan yang bagus, kami pun bergegas tanpa rasa takut sebab jumlah kami sekitar 6 orang, tiba-tiba tanpa disadari setelah kami berjalan dan masuk sekitar kurang lebih 100 meter kedalam hutan seperti ada cahaya yang tidak terlalu terang mengikuti kami dari samping kiri dan kanan. Rasa takut dan pertanyaan dalam diri kami, secara terkhusus dalam diri saya semakin bergejolak dan mulai menyelimuti rasa berani ,sehingga muncul dalam pikiran apakah lanjut mencari buah atau kembali pulang. kawan-kawan tetap sepakat untuk tetap melanjut tanpa menghiraukan apa yang sedang terjadi disekeliling kami. Memang kami semua menyadari banyak kejadian aneh yang dialami selama proses pencarian buah seperti tidak mendapatkan buah sama sekali, suara burung dari kiri-kanan tanpa hentinya seolah-oleh berteriak kencang kepada kami serta cahaya seperti lampu tetap mengawasi kami semua sampai kembali. Setelah kejadian tersebut banyak hal yang disampaikan kawan-kawan tentang pandangan mereka, tetapi masih berekspetasi dan menerawang jauh.

Dari banyak cerita yang menunjukan hutan sekitar Putut Nonok angker (menyeramkan) serta saya dan kawan-kawan pun sempat mengalami kejadian yang bisa dikatakan aneh. Sehingga menuntut saya peru digali sedikit bagaimana histori singkat hutan sekitar Putut Nonok yang berada di Desa Simpang Naneng. Ibu Sadem Bin Lamen adalah seorang Perempuan yang sudah berusia 87 tahun atau sering dipanggil nenek jumpet adalah masyarakat asli Desa Simpang Naneng dan sudah tinggal semenjak tahun 1991 dengan nama desa masih desa dayu.


Nenek Jumpet menyampaikan dulu tidak ada orang tinggal di daerah sekitar hutan tersebut, konon dulunya hutan disekitar Putut Nonok sendiri sering di sebut sebagai “Hutan Wuang”  karna tidak ada orang tinggal sekitar itu. Berdasarkan penjelasannya hanya ada satu rumah orang yang tinggal disekitar itu pada tahun 80an awal. Nenek jumpet menceritakan awalnya disampaikan orang tua dulu yang berada sekitar hutan putut nonok pernah terjadi beberapa peristiwa yang aneh seperti ada hewan yang nyebrang jalan menyerupai kucing berkerumun dan berjalan menuju putut nonok/pohon bringin tersebut ternyata setelah dilihat dari dekat tidak ada. Selanjutnya ada juga peristiwa yang dialami seseorang masyarakat yang tinggal didaerah tersebut, pernah melihat seperti bayangan orang yang menggunakan tutup kepala berjalan menuju Putut Nonok tetapi setelah diikuti dan diteliti dari dekat tidak ada meilihat bahkan  menemukan bekas jejak orang tersebut. Nenek Jumpet juga mencerita dan berkata semenjak dia berserta keluarganya pindah dan menetap untuk tinggal di Desa Simpang Naneng yang dulu namanya masih Desa Dayu karna pemerintahan desanya masih masuk Desa Dayu pada tahun 1991. Menurutnya pernah terjadi suatu kejadian aneh juga dimasa itu seperti ada segerombolan orang yang berjalan kearah Putut Nonok dan paling mengejutkan Beberapa minggu setelah kejadian  tersebut mulai ada kejadian seperti kecalakaan tunggal, tabrakan bahkan kena tabrak sehingga menyebabkan orang meninggal dunia dan terdapat empat kasus kecelakaan yang menelan korban jiwa di daerah sekitar hutan Putut nonok  dan masih melekat dalam ingatan dan pikiran nenek jumpet yang sudah tidak muda lagi.


Tidak luput disebutkan Nenek Jumpet, di daerah sekitar hutan Putut Nonok tersebut tepatnya di bagian belakangnya terdapat “pasar bajang” atau kuburan anak kecil yang belum ada keahlian sama sekali (belum tumbuh gigi/baru lahir) sehingga dikubur didaerah tersebut. Dia juga mengatakan sering orang yang lewat daerah hutan Putut Nonok ditakut-takuti oleh mahluk/hewan yang tidak dapat dilihat dengan mata manusia, yang mendiami hutan tersebut sehingga Putut Nonok di kenal oleh masyarakat setempat khususnya Desa Simpang Naneng sebagai tempat yang angker (tampak menyeramkan) dengan segala cerita mistiknya.

 

Nenek Jumpet juga menceritakan Tidak jauh dari hutan tempat Putut Nonok berada sekitar 200 meter, tepatnya dekat SDN 2 DAYU di Desa Simpang Naneng . Terdapat sebuah jalan tanjakan yang sering dikenal dengan sebutan “wungkur buta” dan konon kata orang dulu disitu terkenal juga dengan sebutan “Damung Wungkur Buta maleh, Raden Karungang Runsa” atau “bukit yang tidak melihat raja atau putra raja melintas Karungang Runsa” (Karungung Runsa adalah konon dulu nama sebutan daerah wungkur buta tersebut). Memang secara histori ada alasan kenapa Jalan tanjakan tersebut dinamakan masyarakat  wungkur buta karena sering terjadi peristiawa kecelakaan tunggal atau pun tabrakan yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa, tetapi setalah namanya jalan tanjakan tersebut wungkur buta tetap terjadi kecelakaan motor atau mobil didaerah tersebut bahkan meningkat dari sebelumnya. beranjak dari peristiwa tersebut, daerah sekitar  wungkur buta kearah hutan Putut Nonok yang dikenal masyarakat Desa simpang naneng sekarang dengan nama Simpang Waringin dengan tujuan semoga dapat menepis atau menghilangkan banyaknya peristiwa aneh terjadi di sekitar daerah tersebut. 


Di beri nama Simpang Waringin kata “Nenek Jumpet”  karna tetapnya didaerah tersebut terdapat sebuah persimpangan kearah Hepung Waringin ( Hepung adalah tempat berkumpulnya/pemukiman dan tempat orang dulu berkerja). Di Desa Simpang Naneng itu sendiri terdapat beberapa Hepung selain Waringin, seperti Hepung Manengeten dan Hupung Mabu. Dari berbagai fenomena yang terjadi dan dipaparkan oleh Nenek Jumpet, hal yang memang masih dirasakan oleh masyarakat setempat secara terkhusus masyarakat Desa Simpang Naneng sampai sekarang adalah ketika berjalan lewat daerah hutan Putut Nonok seperti berjalan di dalam dunia lain terasa ada hawa dingin khususnya ketika malam hari.

Memasuki tahun 2000an, cerita tentang angkernya hutan Putut Nonok dengan cerita mistiknya sudah mulai memudar bahkan menghilang dari dalam tataran masyarakat setempat karna kemajuan jaman dan cepat perubahan yang terjadi. Hal tersebut disebabkan karna mengalir derasnya arus globalisasi yang tidak dapat terbendung oleh manusia, sehingga menjadikan masyarakat yang moderen dalam segala lini kehidupan.  seperti mulai dari cara berpemikiran, bertingkah laku secara dinamis, realistis dan sistematais ,ada juga karena faktor aliran kepercayaan masyarakat setempat yang sudah kebanyakan pindah agama dan masuk kedalam agama kristen protestan dan katolik sehingga percaya untuk hal-hal bersifat mistik mulai berkurang. 

Banyak contoh lain yang dapat kita lihat secara kesat mata, seperti mulai banyak rumah dan bangunan berdiri disekitar daerah hutan Putut Nonok  bahkan di tengah pulau tersebut sekarang sudah berdiri kantor Desa Simpang Naneng yang bagus. Lalu Bagaimana nasib mahluk tidak terlihat di sekitar Hutan Putut Nonok. Apakah pindah ketempat yang baru sebab cahayanya di kalahkan cahaya Hp android yang lebih terang atau bersedih karna melihat manusia yang tidak takut lagi dengan mahluk tak terlihat. Buktinya tempat mereka mulai dikuasai manusia. sebab manusia lebih takut apabila paket datanya (koutanya) habis dari pada duduk sendirian di pinggir hutan/tengah hutan asalkan Hpnya hidup dan paket data ada .

Pastinya masyarakat setempat harus tetap menjaga keasrian hutan dan tidak merusaknya, karna masyarakat desa Simpang Naneng percaya hutan adalah sumber kehidupanya semua mahluk didalam dunia termasuk mahluk yang tidak terlihat serta sebagai tempat untuk mencari sekaligus meminta. Sehingga kita generasi muda dituntut untuk lebih mengenal sejarah daerah/desa kita sendiri karna dengan mengenal sejarah dipastikan muncul rasa cinta dan menjadi landasan dasar yang kuat untuk mengembangkan desa kearah kemajuan yang berkelanjutan tanpa memiliki maksud  merusak dan melupakannya . Lupakanlah hal yang membuang waktu kita untuk pengembangan kapasitas diri, karna masa depan desa/daerah ada ditangan kita. Seperti pepatah mengatakan “ Kalau Bukan Sekarang Kapan lagi”.

Terima Kasih.


Penulis : Obi Seprianto
Previous Post
Next Post

5 comments:

  1. Mantap Gan biar menambah wawasan tentang sejarh desa Simpang Naneng

    ReplyDelete
  2. Mantap ina bi anggap jari aset desa takam😀

    ReplyDelete
    Replies
    1. Siapp2 boss, die takam coba menggali ni sh wau boss👍👍

      Delete
  3. Segah kisah iri bang ekat kurang rama ai pakau na baca nimpann jari itungen wkwkw

    ReplyDelete
  4. Numpang promo ya gan
    kami dari agen judi terpercaya, 100% tanpa robot, dengan bonus rollingan 0.3% dan refferal 10% segera di coba keberuntungan agan bersama dengan kami
    ditunggu ya di dewapk^^^ ;) ;) :*

    ReplyDelete