Wednesday, April 22, 2020

SEBUAH CATATAN REFLEKSI DIES NATALIS PMKRI CAB. PALANGKA RAYA KE - 29 TAHUN



Pada tanggal 18 April 2020 PMKRI Cab. Palangka Raya “Sactus Dionisius” memperingati Dies Natalis yang ke – 29 tahun, dimana sejak berdiri pada 18 April 1991 PMKRI Cab. Palangka Raya “Sactus Dionisius” tentunya telah melahirkan ratusan kader potensial yang terhimpun dari berbagai kabupaten di Provinsi Kalimantan Tengah maupun dari berbagai daerah di Indonesia.

Dengan momentum Dies Natalis PMKRI Cabang Palangka Raya ke – 29 ini, kita semua merasa bersyukur atas usia yang sudah tidak lagi muda dan merasa perlu untuk menghimpun kembali kader-kader guna mensinkronkan dan mengkonsolidasi kader-kader PMKRI Cabang Palangka Raya  lintas generasi yang sekarang tersebar di berbagai daerah baik itu di Provinsi Kalimantan Tengah maupun di daerah lainnya di Indonesia. Melalui momentum peringatan inilah para kader diingatkan kembali atas perjuangan-perjuangan dan proses yang telah dilalui selama mengabdi terhadap Perhimpunan.

Dalam usia 29 tahun ini, ada beberapa hal yang dapat kita perhatikan sebagai bahan refleksi untuk dapat terus berjuang dari ilmu dan pengalaman yang sudah didapatkan di Perhimpunan kita tercinta. Sebagai sebuah organisasi yang sudah hadir hampir tiga dasawarsa di Kota Palangka Raya, PMKRI Cab. Palangka Raya terus eksis dan sudah banyak kiprah yang ditorehkan merupakan sebuah pencapaian yang patut kita syukuri. Namun dibalik pencapaian ini ada berbagai macam tantangan yang merongrong Perhimpunan ini baik itu dari segi internal maupun eksternal dan ada berbagai fase yang telah dilalui yang turut membentuk serta mengubah dinamika di dalamnya. Karena kita, kader PMKRI, percaya bahwa perubahan adalah sebuah keniscayaan bagi Perhimpunan. Tentu saja perubahan ke arah yang lebih baik.

Cita-cita luhur PMKRI yang tertuang dalam visi dan misi untuk dapat mewujudkan keadilan sosial, kemanusiaan dan persaudaraan sejati dalam konteks kekinian merupakan suatu tugas mulia yang sungguh menggetarkan bagi segenap anggota Perhimpunan. Bagaimana kemudian hal ini bisa diwujudkan menjadi kenyataan dalam gerak keseharian Perhimpunan yang dicerminkan dengan teladan dan spiritualitas anggota di setiap karya kehidupannya. Inilah yang senantiasa menjadi pergulatan pastoral cycle atau juga dikenal doing theology spiral yang sejak dulu hingga saat ini terus menerus diupayakan dalam Perhimpunan guna memastikan keseimbangan antara refleksi dan tindakan.

Sejarah Perhimpunan mencatat bahwa dalam rentan waktu lampau PMKRI menjadi wadah pilihan sebagian besar mahasiswa Katolik untuk menggalang solidaritas, melatih dan membentuk dirinya menjadi manusia paripurna guna terlibat di berbagai sektor kehidupan Gereja dan Tanah Air. Catatan itu memperlihatkan tingginya antusias mahasiswa Katolik untuk ikut dalam dinamika Perhimpunan. Salah satu variabelnya adalah banyaknya output kader yang sampai saat ini mampu mewarnai dalam kancah kehidupan bermasyarakat di berbagai tempat. Namun kondisi ini berbeda dengan kondisi aktual saat ini. Hiruk pikuk persoalan bangsa yang terasa semakin pelik, aksi-aksi kekerasan yang sering terjadi akhir-akhir ini, runtuhnya moral-sosial, lompatan teknologi yang menyudutkan mereka yang lemah, terbitnya kebijakan-kebijakan dari pemerintah yang terkesan ugal-ugalan dan cenderung diskriminatif mempengaruhi concern PMKRI Cab. Palangka Raya untuk merumuskan konsep pembinaan dan gerakan terutama bagi generasi muda untuk menghadapi semua ini bahkan kemungkinan terburuknya membuat Perhimpunan tumpul bersamaan dengan dominasi pragmatisme politik kekuasaan yang mewabah ke dalam jantung Perhimpunan.

Pola pembinaan PMKRI yang sampai saat ini memang terasa belum cukup menjawab kubutuhan dan tuntutan di tengah kontekstualitas dan himpitan lajunya perkembangan teknologi, turut menciptakan image the other terhadap PMKRI. Hal ini terasa normal ketika kalangan umat dan mahasiswa Katolik banyak menganut pemikiran zona nyaman yang selalu menilai sesuatu lebih kepada kerja konkrit (pragmatis) dengan tidak memperdulikan tuaian dimasa yang akan datang. Jika hal ini terus terjadi, maka bukan tidak mungkin fluktuasi dan dinamika PMKRI Cabang Palangka Raya akan semakin menurun.

Yang harus dicapai adalah pembinaan dan kaderisasi yang dijalankan memperlihatkan adanya kebutuhan untuk mengakomodasi dan merespon tuntutan dan tantangan sebagai dampak perubahan sosial yang terjadi. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul adalah bagaimana memfasilitasi penguatan basis spiritual kader, militansi kader, pembentukan kemampuan leadership dan karakter kader, pengembangan softskill, motivasi untuk terus belajar dan memperluas wawasan kemasyarakatnnya, mulai dari lingkup terkecil hingga wawasan global sebagai satu kesatuan? Bagaimanakah memfasilitasi proses kaderisasi yang mampu melahirkan lapisan kader Perhimpunan yang dapat menggerakan roda Perhimpunan baik itu secara kualitatif dan kuantitatif serta mengembangkan jaringan dan kerjasama yang luas dengan berbagai elemen masyarakat untuk mampu menembus sekat-sekat primordial? Bagaimana mengkonsolidasi bagian-bagian terpenting Perhimpunan yaitu dengan alumni dan hirarki Gereja guna memastikan arah dan proses serta isi pembinaan yang dilakukan? Pertanyaan ini menjadi sulit dijawab karena kita dituntut untuk melakukan sebuah imajinasi yang rasional disertai prediksi – prediksi keadaan yang harus dilalui.

Peran Perhimpunan di tengah dinamika kebangsaan yang memperlihatkan kondisi tidak menentu terkait dengan distorsi aktualisasi substantif agenda reformasi yang cenderung menyimpang merupakan kegelisahan besar yang belum terjawab. Bagaimana bila ilmu pengetahuan dan intektualitas sebagian besar pribadi justru dihiperbolakan sebagai bagian dari media untuk memperdayakan masyarakat, bukan lagi untuk memberdayakan (enpower).

Apakah tanggapan dan bentuk profetis Perhimpunan terhadap realitas polarisasi kakuatan politik dengan agenda kepentingan jangka pendek, anarkisme dan tirani kelompok tertentu yang mulai menggerogoti Pancasilla dan menyinggung keutuhan bangsa yang akibatnya tidak jarang mengiris dan mencabik kemanusiaan kita. Bagaimanakah Perhimpunan mengejawantahkan Ajaran Sosial Gereja menjadi sungguh nyata dalam tugas suci sebagai umat awam terutama dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Jawaban-jawaban kader Perhimpunan atas pertaanyaan-pertanyaan ini paling tidak akan menentukan perspektif dalam melihat ralitas sebagai titik awal refleksi internal yang kembali harus kita mulai hari ini.

Secara makro, PMKRI Cab. Palangka Raya saat ini berupaya mengambil kebijakan yang menyangkut kepentingan keorganisasian secara keseluruhan. Namun, dalam realitasnya masih banyak kendala yang dialami dan belum maksimal. Kebijakan yang telah dilakukan tersebut menyangkut kebijakan internal dan eksternal. Ini berimbas pada kesadaran kritis dan politik Perhimpunan menjadi stagnan dan berpengaruh pada eksistensi PMKRI dimata umat dan masyarakat secara umum. Hal ini terasa pada saat fungsi kontrol yang dilakukan terhadap beberapa kebijakan lokal tidak mampu membangunkan tidur masyarakat dan menggedor kesadaran dan kepedulian kalangan umat dalam kemasyarakatan. Dengan kata lain, law enforcement telah menemui ketidakberhasilan. Harus diakui PMKRI saat ini belum mampu menggelitik politic awareness anggota, mahasiswa dan masyarakat secara umum.

Namun terlepas dari itu semua, sejauh mana kita memiliki dan menghasilkan kebanggaan dan kualitas, tentu tidak perlu membangkitkan kegelisahan tetapi sebuah jawaban beralasan secara rasional. Kalau buruk kita mesti katakan demikian begitu juga sebaliknya. Ini sebuah refleksi kritis yang setidaknya atau seharusnya kita lakukan. Dan ini tidak kemudian membuat kita justru terjebak dengan cerita pesimistis kembali, tetapi sebagai teropong yang tidak sekedar menghasilkan instrumentalisme. Artinya kesadaran kita akan pentingnya instrumen sebagai finalitas tujuan. Kita hapus konvensi-konvensi yang menjadi penghambat Perhimpunan dan melemahkan nilai-nilai PMKRI yang selama ini menjadi stereotype mengenai PMKRI. Kita bangun keunggulan pribadi dengan integritas pribadi yang utuh yang dicirikan dengan enam identitas kader PMKRI yaitu Sensus Chatolicus, Semangat Man For Others, Sensus Hominis, Pribadi Yang Menjadi Teladan, Universalitas dan Magis Semper.

Nilai kebenaran terutama tertanam di dalam jiwa melalui kesadaran dan pengulangan berkali-kali (terlebih-lebih secara meditatif) atas kesadaran tersebut, itulah rahmat ilahi atas diri manusia yang terbungkus oleh kejasmaniannya. Kita semua adalah pelaku sejarah dan kita semua mempunyai capability dalam menginterprestasikannya. Sejarah perjalanan Perhimpunan kita adalah sejarah dialektika realitas yang juga kepentingan bagi kita untuk berubah. Kepentingan perubahan dalam hal ini, menjadi konsekuensi logis realitas. Hanya dengan indegenious knowledge (nilai kearifan) lah kita mampu memposisikan diri sebagai the slave of justice dengan percaya bahwa ada "a blessing in disguise" dari semua proses yang sudah terjadi.

Dirgahayu Perhimpunanku tercinta.

Religio Omnium Scientiarum Anima
Pro Ecclesia et Patria!!!


Penulis : Egi Praginanta

Previous Post
Next Post

3 comments:

  1. Numpang promo ya gan
    kami dari agen judi terpercaya, 100% tanpa robot, dengan bonus rollingan 0.3% dan refferal 10% segera di coba keberuntungan agan bersama dengan kami
    ditunggu ya di dewapk^^^ ;) ;) :*

    ReplyDelete