Sunday, August 22, 2021

Dampak Krisis Ekologi Terhadap Ekonomi

 

       Pada perkembangan teknologi yang diciptakan oleh manusia telah memungkinkan eksploitasi sumber daya alam yang lebih. Meskipun ada kemajuan, nasib peradaban manusia masih berhubungan erat dengan perubahan lingkungan. Ada umpan balik yang sangat kompleks antara penggunaan teknologi dan perubahan pada lingkungan yang hanya bisa dipahami secara perlahan. Contoh ancaman terhadap alam yang dibuat oleh manusia adalah polusi, deforestasi, dan bencana yang diakibatkan oleh kekeringan dan banjir. Manusia telah memberi kontribusi pada kepunahan banyak tanaman dan hewan.

      Pasal 1 UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup mendefinisikan bahwa lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya yang memengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan kehidupan, dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain. Berdasarkan definisi tersebut, dapat dipahami bahwa lingkungan hidup memiliki makna yang sangat luas karena menyangkut keseluruhan interaksi kehidupan alam semesta, yaitu antara manusia dengan manusia yang mempunyai dampak pada alam, serta antara manusia dengan makhluk hidup lain yang ada di planet Bumi atau dengan alam secara keseluruhan.

     Adapun permasalahan krisis ekologi jelas sangat berbeda dengan permasalahan non-ekologis, krisis ekologi tidak dapat diabaikan begitu saja. Kepasifan dan keaktifan manusia dalam merespon permasalahan ini akan menentukan jalan cerita ekosistem lingkungan hidup dan planet bumi dimasa mendatang. Pada 1960-an, Lynn White, Jr. berpendapat dalam papernya yang mengundang perdebatan hingga kini yang dipublikasikan pada jurnal Science, yaitu The Historical Roots of Our Ecological Crisis, bahwa krisis ekologis akibat dari eksploisitas sains dan teknologi berakar pada pandangan antroposentris tradisi Yudeo-Kristiani yang menganggap bahwa manusia dan alam adalah dua hal yang berbeda. Posisi yang berbeda ini meletakkan manusia lebih tinggi dari alam dan oleh karenanya manusia berhak menguasai alam tersebut.

     Untuk itu, diperlukan langkah konkret dalam mencegah dan mengatasi krisis lingkungan. Salah satunya dengan melakukan penyatuan modernisasi ekologi dan ekologi politik. Kolaborasi disusun untuk meningkatkan daya dukung alam dan mendukung pembangunan berkelanjutan.

     Ilmu pengetahuan dan teknologi pada awalnya memang dipergunakan untuk mempermudah hidup manusia. Teknologi menjadi kepanjangan tangan manusia dalam menaklukan alam, mengubah lingkungan menjadi nikmat untuk ditinggali, berpergian tidak lagi sulit seperti dulu. Begitu pula dengan komunikasi yang berlangsung dengan sekejap mata. Namun di lain pihak manusia juga semakin bergantung pada teknologi.

      Faktor utama terjadinya kerusakan ekologi diakibatkan pemakaian besar-besaran produk-produk teknologi moderen. Namun penggunaan teknologi juga sangatlah tergantung pada niat manusia itu sendiri, sebab di samping sangat menguntungkan dan mempermudah kegiatan, teknologi juga dapat mengakibatkan malapetaka bagi manusia dan lingkungan bila digunakan untuk maksud yang tidak tepat.

     Serta faktor yang terpenting dalam permasalahan lingkungan adalah besarnya populasi manusia. Dengan tingkat pertambahan penduduk yang tinggi, kebutuhan akan bahan pangan, bahan bakar, pemukiman dan kebutuhan dasar yang lainnya juga meningkat. Pada gilirannnya juga akan meningkat limbah dosmetik dan limbah industri sehingga mengakibatkan perubahan besar pada kualitas lingkungan hidup. Permasalahan ini diperparah dengan ketergantungan manusia terhadap penggunaan energi dan bahan baku yang tidak dapat diperbaharui. Kondisi ini terutama terjadi di negara yang sedang berkembang di mana tingkat ekonomi dan penguasaan teknologinya masih rendah. Dengan demikian, baik karena masalah lingkungan yang global maupun karena keterkaitannya dengan ekonomi dunia yang telah mengalami globalisasi.

       Saat ini telah terjadi krisis ekologis global akibat dari berlangsungnya kapitalisme global dimana menunjukkan pertumbuhan ekonomi dan industri ekstraktif yang merusak alam. Berbagai keserakahan pola konsumsi manusia dan terjadinya bencana akibat perbuatan manusia. Semua menimbulkan tekanan terhadap daya dukung dan daya lenting bumi. Akibatnya ternjadinya cuaca ekstrem, bencana alam, penyusutan pohon, hutan, air, peningkatan ozon dan emisi karbon, pandemi–penyakit zoonosis hingga kerusakan habitat dan kepunahan spesies.

      Berdasarkan pembahasan disimpulkan bahwa dampak krisis ekologis terhadap ekonomi dapat diartikan dengan tingkat pertambahan penduduk yang tinggi, kebutuhan akan bahan pangan, bahan bakar, pemukiman dan kebutuhan dasar yang lainnya juga meningkat. Dan juga dampak dari permasalahan ekologi ini adalah banyaknya terjadi kerusakan alam baik di daratan, di lautan maupun di udara.

     Seperti kerusakan lingkungan yang terjadi di daratan, seperti kebanjiran yang terus melanda kota-kota besar di Indonesia. Hujan yang berangsung cukup lama juga dapat disebut sebagai penyebab terjadinya banjir dikarenakan tanah tidak mampu menyerap air dengan baik, hal ini disebabkan oleh sedikitnya lahan hijau seperti pepohonan yang berguna untuk menyerap air. Sehingga air yang mengalir langsung masuk kesalurannya, seperti keselokan, sungai dan danau. Air yang cukup deras dan tidak tertampung lagi oleh saluran tersebut akan menggenang dan mengakibatkan banjir.Namun hujan tidak bisa menyebabkan banjir jika tidak ada faktor penunjang. Seperti tanah yang tidak bisa menyerap air dengan baik, disebabkan oleh manuisa itu sendiri, dengan menebang pepohonan yang berguna untuk menyerap air, sehingga air yang mengalir tidak bisa diserap dengan baik dan faktor tersebut sangat berperan dalam memperparah banjir.

     Dan pada kerusakan lingkungan yang terjadi di laut. Yakni kerusakan ekosistem laut yang terjadi hampir di seluruh wilayah pesisir. Hal ini disebabkan karena masih kurangnya kesadaran masyarakat tentang menjaga lingkungan. Manusia harus menyadari dan wajib melindungi keberadaan ekosistem laut sebagai penopang hidup manusia. Faktor-faktor penyebab kerusakan laut seperti, penambangan pasir yang dilakukan oleh manusia dan pembuangan berbagai macam limbah yang dibuang ke laut, berbagai macam limbah dosmetik dan pengelolahan.

       Dan juga yang terjadi di udara, yakni pemanasan global. Pemanasan global yang disebabkan oleh efek rumah kaca yang menyebabkan suhu di bumi panas. Cahaya matahari penting bagi kehidupan di bumi, tetapi dengan peningkatan gas di atmosfir bumi, panas yang tertangkap juga bertambah banyak. Semakin banyak energi panas yang tertangkap, maka temperaturnya semakin tinggi. Selain itu juga dengan membakar bahan bakar dan mencegah sebagian cahaya matahari lolos hal tersebut akan menyebabkan pemanasan global.

Penulis, David Satrio

Previous Post
Next Post

0 comments: