Friday, May 22, 2020

COVID-19 DAN TANTANGAN KESADARAN INDIVIDU


Oleh: Alberta Nilasari Diah Nastiti
Alumnus Universitas Airlangga Surabaya


Dunia sedang berada dalam ancaman nyata corona virus disease 2019 (covid 19) yang merenggut nyawa dan mengubah tatanan kehidupan umat manusia. Saat tulisan ini dibuat setidaknya sudah terkonfirmasi 4,89 juta jiwa di seluruh dunia yang terjangkit virus ini, 323 ribu jiwa di antaranya meninggal dunia, sementara itu 1,69 juta jiwa berhasil sembuh. Di Indonesia sendiri pasien yang positif terkena covid 19 tercatat telah menembus angka 18.496 pasien, sebanyak 4.467 pasien dinyatakan sembuh, sementara angka kematian mencapai 1.221 jiwa.
Data keterpaparan covid 19 di atas bukanlah suatu dekorasi untuk gagah-gagahan, tetapi menampilkan fakta keterancaman yang nyata kepada kita bahwa dunia kita tidak sedang baik-baik saja. Dunia kita sedang berada dalam bahaya dan perlu suatu tanggapan serius yang mengantisipasi dampak buruk pandemi itu terhadap kehidupan umat manusia.  
Selamat datang virus
Ketika negara-negara lain seperti Tiongkok, Korea selatan, dan Italia sibuk membatasi aktivitas di dalam negerinya untuk membatasi penyebaran covid 19, Indonesia justru membayar para buzzer dan influencer untuk mendatangkan turis (baca: virus) dari luar negeri. Gagasan untuk mendatangkan turis dimaksudkan untuk memompa pertumbuhan ekonomi, tetapi pada saat yang bersamaan menampilkan ketidaksiapan pemerintah kita mengantisipasi bahaya covid 19.
Para pejabat kita memang selalu “tampil beda” atau “asal beda” dari yang lain dalam mengantisipasi covid 19. Ada pejabat negara yang dengan enteng berseloroh menyatakan bahwa covid 19 tidak akan bisa masuk ke Indonesia karena “sulit mendapatkan perizinan”, ada yang mengatakan bahwa dengan memakan nasi kucing tidak akan terkena virus itu. Sikap para pejabat ini tentu saja bertentangan dengan sikap ilmiah yang memiliki pijakan logika dan pengamatan empiris yang ketat dalam penelitian-penelitian ilmiah yang kredibel.
Sikap yang antisains itu berujung pada angka paparan korban covid 19 yang kian meningkat hari demi hari. Jika saja kita bersikap menghormati prinsip-prinsip sains dalam mengantisipasi gelombang teror covid 19 ini, barangkali Indonesia tidak separah yang terjadi saat ini. 
Setidaknya ada satu hal yang mendasar yang perlu dilakukan oleh pemerintah dalam mengantisipasi bahaya covid 19 ini yakni dengan mengedukasi masyarakat. Pemerintah seharusnya memberikan informasi tentang bahaya covid 19 dan cara mencegahnya sehingga masyarakat kita memiliki kesadaran yang timbul dari dalam dirinya tentang sistem pencegahan mandiri. Dalam hal ini, media dapat menjadi salah satu corong yang memberikan edukasi tersebut. Sayangnya, itu terlambat dilakukan, virus telah masuk dan kita tidak siap menghadapi itu.
Ketidaksiapan kita bisa ditunjukan dengan gagalnya pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dan karantina wilayah yang dimaksudkan untuk membatasi aktivitas sosial masyarakat tetapi faktanya masyarakat tetap saja beraktivitas seolah-olah covid 19 bukan ancaman.
Ini bisa terjadi karena (i) masyarakat kurang memiliki kesadaran untuk melakukan karantina mandiri, (ii) pemerintah tidak tegas dalam memberlakukan PSBB dan karantina wilayah dengan aturan yang carut marut dan di kalangan para menteri kabinet sendiri saling membatalkan peraturan yang dikeluarkan menteri yang lain dan menganulir himbauan presiden, (iii) pemerintah pusat melalui presiden akhrinya mengajak berdamai dengan covid 19 suatu tanda keputusasaan dan pasrah di hadapan covid 19.
Dampak dan usaha nyata kita!
Statistik korban terpapar covid di atas bukan sekedar angka-angka yang dihadirkan di hadapan kita, tetapi fakta teror kematian yang menghantui kehidupan umat manusia di seluruh dunia. Covid 19 menyebabkan tatanan sosial dan pola interaksi-komunikasi antarmanusia berubah. Manusia sebagai makhluk sosial yang ditandai dengan interaksi satu sama lain harus menjaga jarak (social/physical distancing) dengan yang lain demi keselamatan diri. Ada perubahan hakikat kemanusiaan dari makhluk sosial menjadi makhluk yang solipsis sebagai antisipasi terhadap kepunahan di hadapan teror kematian ini.
Tak hanya itu saja, covid 19 juga melumpuhkan perekonomian dan boleh jadi mengubah tatanan politik dunia. Banyak negara termasuk Indonesia tak luput dari soal ini. Dampak nyata yang paling terasa dari hal itu adalah banyak buruh yang dirumahkan (pemutusan hubungan kerja), ada banyak tukang ojek daring dan pangkalan yang kehilangan penumpang, pedagang kehilangan pelanggan.
Dalam bidang politik, gejala paling umum adalah para elit politik (baik di DPR maupun di lembaga-lembaga eksekutif) secara cepat-cepat mengesahkan agenda-agenda politik yang kontroversi dan bertentangan dengan kepentingan rakyat. Pengesahan UU Minerba Tahun 2020 baru-baru ini adalah tanda bahwa demokrasi kita telah disandera oleh kepentingan oligarki politik yang menubuh di dalam para elit politik nasional. Demokrasi dibajak oleh kepentingan modal dan hal itu luput dari pengawasan rakyat yang sedang bersusah payah mempertahankan hidup di tengah wabah.
Lantas apa yang harus kita lakukan? Fenomena ini mendesak kesadaran kita untuk terlibat secara aktif dalam usaha meminimalisir korban jiwa. Tidak hanya itu saja kita juga dituntut untuk bersama-sama dalam semangat persatuan untuk menjaga keutuhan Indonesia dari ancaman nyata oligarki ekonomi politik yang memanfaatkan situasi ini untuk kepentingan bisnisnya.
Dalam skala nasional memang kita sudah terlambat mengantisipasi kehadiran covid 19, tetapi kita bisa membangun kesadaran individu untuk mencegah dampak lebih luas dari bahaya ini dan terutama mengantisipasi kehidupan normal setelah covid 19. Mengutip Yuval Noah Harari: “Ya, badai pasti akan berlalu, umat manusia akan bertahan, banyak dari kita akan tetap hidup — akan tetapi kita akan tinggal di sebuah dunia yang berbeda”.
Covid 19 hadir sebagai sebuah interupsi terhadap aktivitas dan rutinitas kita. Tidak hanya menginterupsi tetapi juga mendisrupsi kehidupan normal kita. Dampak nyata dari interupsi dan disrupsi itu adalah menuntut kita untuk berbenah dan memperbarui diri, menginovasi diri agar kita tetap bertahan di dalam dunia pasca covid 19.
Covid 19 memang merupakan bencana bagi umat manusia, tetapi sekaligus momentum bagi kita untuk berbenah diri.
Tugas kita tidak saja untuk mengamankan diri dari terpapar virus ini, tetapi juga memastikan agar orang lain di sekitar kita tidak menjadi korban. Sambil berjaga jarak, kita dapat memberikan edukasi tentang bahaya covid 19 dan cara-cara praktis pencegahan seperti penggunaan masker dan sesering mungkin mencuci tangan. Kampanye tentang tindakan praktis pencegahan covid 19 itu bisa kita lakukan melalui media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, Youtube, Zoom, dan lain sebagainya.
Pandemi covid 19 memang mengancam kita umat manusia, tetapi semangat untuk tetap hidup dan menghidupkan yang lain jangan sampai padam. Di tengah ancaman teror kematian ini, jangan sampai kita kehilangan harapan untuk tetap hidup.




Previous Post
Next Post

1 comment:

  1. Numpang promo ya gan
    kami dari agen judi terpercaya, 100% tanpa robot, dengan bonus rollingan 0.3% dan refferal 10% segera di coba keberuntungan agan bersama dengan kami
    ditunggu ya di dewapk^^^ ;) ;) :*

    ReplyDelete