Saturday, May 23, 2020

MENGIKUTI PROTOKOL KESEHATAN: BENTUK TANGGUNGJAWAB TERHADAP DIRI DAN ORANG LAIN DI TENGAH PANDEMI VIRUS CORONA


Oleh : Ronald Firman
Gubuk San Camilo Maumere

Pengantar 
Umat manusia akhir-akhir ini mengalami kecemasan dan ketakutan yang luar biasa terhadap virus corona. Bagaimana tidak demikian, sejumlah besar orang meninggal dunia karena terinfeksi virus ini. Mereka meninggalkan keluarga, sahabat dan orang-orang yang mereka cintai. Sangat meyedihkan, kepergian dengan meninggalkan bekas luka yang mendalam bagi semua orang. Kesedihan yang mendalam ini tidak hanya dialami saat orang meninggal dunia, tetapi sejak dinyatakan positif terjangkit Corona, kesedihan dan ketakutan menguasai diri, keluarga harus menjauh agar tidak terinfeksi, dilarang berkumpul dan lain sebagainya. 

Selain kecemaan karena penyakit ini belum bisah ditemukan vaksinya, manusia yang mendiami muka bumi ini mengalami kecemasan yang bukan hanya datang dari virus corona, tetapi juga datang dari sesama manusia. Fenomena ini diperkuat dengan munculnya diskriminasi, stigmatisasi dan rasa curiga terhadap sesama. Diskriminasi tentu dialami oleh pasien karena mereka dijauhkan orang banyak yang masing-masing punya prinsip menjaga diri. Di sini ada semacam keterpisahan antara sesama manusia karena diliputi oleh rasa takut. Kalau sebelumnya orang berkumpul bersama sekarang kegiatan bersama dihentikan dengan prinsip jaga jarak. Kegiatan bersama yang biasa dilakukan oleh pihak pemerintah, komunitas tertentu, bahkan oleh institusi agama terpaksa dihentikan.

Di tengah kecemasan dan kegelisahan seperti ini, juga ditemukan kegelisahan akan eksistensi manusia pada waktu yang akan datang. Akankah manusia bertahan dihadapan virus Corona ini. Pertanyaan  lain muncul dari orang-orang beriman tentang eksistensi Allah yang adalah Pencipta, Pengasih dan Penyanyang. Apakah Allah menutup mata terhadap penderitaan seperti ini? Pertanyaan seputar penderitaan pun kian hari kian bertumpuk dalam hidup manusia. Dihadapan penderitaan orang bertanya tentang kerahiman Allah yang diimaninya.

Selain bertanya tentang eksistensi Allah yang diimaninya, manusia juga tentu bertanya tentang peran utama manusia sendiri dihadapan penderitaan. Apakah manusia berjuang untuk keluar dari kemelut penderitaan ini ataukah manusia harus pasrah saja pada kenyataan yang ada? Pertanyaan seputar relasi antara sesama manusia pun muncul dalam benak setiap orang. Pertanyaan ini muncul ketika fenomena bahwa pasien virus Corona ada yang didiskriminasi dan menjadi momok yang menakutkan di dalam masyarakat. Berhadapan dengan berbagai pertanyaan di atas, penulis ingin merefleksikan bagaimana relasi antara sesama mansuia di tengah penyebaran virus Corona. Serta merefleksikan Kontribusi sentral protokol kesehatan.

Virus Corona: Suatu Moment Di  Mana Manusia Memulihkan Relasinya dengan Tuhan.
Manusia pada dasarnya adalah mahkluk yang terbatas. Keterbatasan manusia dapat dilihat pada kenyataan bahwa manusia itu sendiri berjuang untuk menemukan Tuhan yang diimaninya, terutama ketika berhadapan dengan penderitaan. Di hadapan penderitaan manusia terkdang tidak berdaya dan rasionya terbatas untuk menemkan sebab terjadinya penderitaan ayng di alami. Kenyataan virus corona sebaga sumber penderitaan menjadi contoh nyata. Banyak yang bertanya tentang peran sentral Allah dalam realitas penderitaan ayng dialami manusia. Di sini ada tendensi untuk memikirkan kembali relasi antara manusia dengan Tuhan. menghadapi penderitaan akaibat virus Corona ini, manusia mempertanyakan keterlibatan Allah dalam mengatasinya. Namun, pertanyaan tentang peran Allah dalam situasi penderitaan seperti ini, pada satu sisi mendatangkan niali positif. Dalam arti bahwa relasi manusia dengan Allah yang sudah terputus sebelumnya karena materialisme, konsumerisme dan egoisme akan menjadi pulih kembali. Tidak jarang ditemukan bahwa, ketika manusia  tengelam dalam kenikmatan semata, dia lupa bersyukur dan berterima kasih. Manusia terlena dalam konsumerisme yang menggunakan segala sesuatu secara tidak tepat dan seenaknya. Kini dihadapan penderitaan kaena Corona manusia baru menyadari bahwa dirinya telah terlarut dalam kenikmatan semata dan telah melupakan Tuhan. Di hadapan penderitaan karena Corona, manusia hendaknya menyadari kerapuhanya.

Virus Corona: Menggugat Tanggungjawab Manusia Terhadap Sesama 
Pertanyaan seputar relasi antar sesama manusia di tengah wabah Corona dilatari oleh kenyataan bahwa, karena ketakutan dan kecemasan yang berlebihan ada stigmatisasi terhadap pasien virus Corona. Kenyataan ini menuntut tanggungjawab moral dalam diri manusia tentang kepedulainnya terhadap sesama. Sanggupkah  kita untuk tetap menerima orang lain yang menjadi korban virus Corona, ataukah kita menutup mata dan menghindar? Situasi pandemi Corona semestinya menjadi moment bagi kita untuk tetap  menjaga relasi sebagai sesama mahkluk yang lemah. Di tengah pandemi ini hendaknya manusia tidak saling mengobjekan sebagai individunyang menakutkan namun sebaliknya tetap saling mrenghargai sebagai sesama subjek yang mendiami langit dan bumi yang sama, sebagai tempat kita berpijak dan menemukan eksistensi sebagai manusia. Sebab keberadaanku diadakan oleh yang lain. Moment penderitaan ini mesti menjadi penggugat bagi manusia untuk melepaskan keegoan dan keluar dari zona nyaman sambil menjaga diri  dengan berbagai aksi peduli kasih terhadap sesama. Membantu sesama yang berkekurangan akibat putusnya hubungan kerja dan lain sebagainya.

Sebagai mahkluk yang mendiami dunia dan membentuk dunia bersama yang lain, tangungjawab terhadap sesama melalui etika kepedulian mesti dijaga dan dipupuki dengan semangat pelayanan terhadap sesama. Pelayanan dokter dan perawat terhadap pasien, pelayanan guru terhadap murid dan pemerintah terhadap warganya dan lain-lain, mesti ditumbuhkan dalam semangat kasih di tengah penderitaan ini. Keterlibatan dalam penderitaan sesama adalah bentuk rasa tanggungjawab dalam menjaga relasi dengan yang lain di luar diri. Kita mesti membuka diri untuk menerima yang lain yang sudah turut membentuk eksistensi kita. 

Ketika kita menerima yang lain sebagai subjek, itu berarti kita juga sedang megafirmasi keberadaan yang lain. Sebab, sesama di luar diri, telah membentuk kita melalui afirmasi yang datang dari padanya tentang kita.menerima yang lain sekalipun sedang dalam penderitaan sejalan dengan memberikan arti arti kepadanya. Peka terhadap kekurangan fan kebutuhan orang lain dalam suasana penderitaan akan medatangkan suka cita. Saling berbagi untuk menutupi kekurangan merupakan bagian dari memberi arti kepada yang lain. Penderitaan manusia dalam menghadapi virus Corona menuntut sebuah tanggungjawab terhadap sesama terutama bagi yang memiliki kesulitan.

Mematuhi Protokol Pemerintah: Bentuk tanggungjawab terhadap diri dan Orang lain
Di tengah pandemi Corona yang menakutkan manusia di seluruh pelosok bumi, semua organisasi pemerintahan dengan caranya masing-masing terlibat dalam memutuskan mata rantai penyebaran virus ini.  Sistem lock down, Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB) dan lain sebagainya merupakan cara pemerintah untuk memutuskan mata rantai penyebaran virus Corona. Berbagai himbauan dan peringatan disampaikan kepada masyarakat melalui media sosial, kampanye untuk menjaga jarak, jaga kebersihan dengan rajin mencuci tangan, semua itu adalah bentuk keterlibatan dan kerja keras pemerintah dalam menghetikan penyebaran virus Corona. 

Lalu apa tanggapan kita sebagai masayarakat terhadap program dan himbauan pemerintah? Adalah suatu keniscayaan bagi masyarakat untuk mematuhi protokol kesehatan. Mematuhi protokol kesehatan adalah bentuk dari tangungjawab terhadap kesehatan pribadi, keluarga, dan orang-orang sekitar. Dengan disiplin diri  yang tinggi, kita sudah mengambil bagian dalam pemutusan mata rantai penyebaran virus yang mematikan ini.

Penutup
Penyebarnya virus Corona yang menakutkan semua orang sebagai bagian dari tragedi kemanusiaan, mesti menjadi bahan refleki bagi kita supaya menghadirkan kembali dalam ingatan kita tentang keterlibatan Entitas yang diimani, tentang peran sebagai sesama manusia, terutama merefleksikan peran penting protokol kesehatan. Dengan membangun kembali relasi yang baik dengan Sang Pencipta, dengan sendirinya kita sadar bahwa kita adalah makhluk yang terbatas.  Dengan kepekaan yang mendalam terhadap kebutuhan sesama di tengah pandemi Corona, kita sudah ambil bagian dalam tanggungjawab sosial kita dan dengan mematuhi protokol kesehatan, kita mengambi bagian dalam tanggungjawab terhadap diri dan orang lain.



Previous Post
Next Post

1 comment:

  1. Numpang promo ya gan
    kami dari agen judi terpercaya, 100% tanpa robot, dengan bonus rollingan 0.3% dan refferal 10% segera di coba keberuntungan agan bersama dengan kami
    ditunggu ya di dewapk^^^ ;) ;) :*

    ReplyDelete