Friday, May 22, 2020

PERTOBATAN EKOLOGIS


Oleh Cresensia Dina


Pada bulan Mei tahun 2020 ini, di tengah pandemi corona virus disease 2019 (covid 19), Gereja Katolik Roma secara khusus mendedikasikan doa Rosario bagi “kesembuhan dan keselamatan bumi.” Gereja secara sadar mengajak seluruh umat beriman di dunia untuk berdoa bagi bumi, tetapi lebih dari itu ada suatu himbauan moral bagi umat manusia untuk berbalik arah (metanoia) dari cara hidup lama kepada cara hidup yang ekologis. Ensiklik Laudato Si (2015) yang diterbitkan oleh Sri Paus Fransiskus itu dimaksudkan agar umat manusia melakukan suatu pertobatan ekologis. 

Pertobatan ekologis artinya ada suatu tindakan aktif yang berangkat dari kesadaran dan otonomi manusia untuk memperlakukan alam sebagai subyek dan bukan obyek yang dieksploitasi secara sewenang-wenang. Zaman modern yang ditandai dengan sikap kritis manusia tidak saja menghadirkan kemajuan bagi umat manusia tetapi juga memiliki ekses negatif terhadap relasi manusia dengan alam. 

Tulisan ini mencoba melihat hubungan antara covid 19 dengan kerusakan ekologis akibat keserakahan manusia. Selain itu, tulisan ini juga mencoba mengangkat semangat pertobatan ekologis sebagai salah satu alternatif untuk menyembuhkan bumi dari situasi krisis yang terjadi saat ini. 

Covid 19 dan Ketidakseimbangan Ekologis
Manusia memandang alam bukan sebagai sumber yang menghidupkan, tetapi sebagai objek yang hadir untuk dieksploitasi isinya. Akibat langsung dari pola relasi manusia-alam yang bersifat subyek-obyek ini tidak hanya merusak alam beserta isinya di satu sisi, tetapi juga turut menghancurkan kehidupan orang-orang miskin dan tertindas di sisi yang lainnya. 
Apakah ada hubungan antara kerusakan ekologis dan covid 19? Jawabannya ada karena kedua hal itu berkelindan satu dengan yang lain. Covid 19 adalah suatu konsekuensi yang harus ditanggung oleh manusia sebagai akibat dari kerusakan ekologis yang disebabkannya. 

David Hayman, seorang ahli ekologi dan penyakit menular dari Universitas Massey, Selandia Baru, mengemukakan pendapatnya tentang hubungan antara covid 19 dan ekologis yang saling berkelindan. Menurutnya pandemi yang terjadi saat ini merupakan akibat dari rusaknya ekosistem dan sistem rantai makanan yang ada. 

“Tiap spesies punya peran khusus dalam ekosistem. Jika sebuah spesies mengambil tempat spesies lain, ini bisa berdampak besar dalam hal resiko penyakit. Dan kerap kita tidak bisa memperkirakan resikonya” (Detik.com, 20/4/2020).

Dalam laporan UNEP Frontier Tahun 2016 menyebutkan bahwa pada abad ke-20 terjadi peningkatan  penyakit menular yang bersumber dari hewan (zoonosis). Zoonosis ini berkaitan erat dengan ketidakseimbangan ekologis yang disebabkan oleh kerusakan ekosistem alam. Ekosistem yang rusak akan mengakibatkan chaos yang berdampak pada ketidakstabilan kosmik. 

Ketidakstabilan ekologis yang paling mungkin terjadi di luar bencana alam adalah mental destruktif manusia terhadap alam. Mentalitas zaman modern yang tampil ke panggung sejarah dengan ide besar antroposentrisme begitu mengagungkan individu sebagai pusat segala sesuatu dan yang lain hanyalah obyek dari pikiran belaka mesti dibalik. Manusia bukan satu-satunya dan bukan pusat segala sesuatu, tetapi sebagai bagian dari keseluruhan dan keutuhan kosmik yang ada. 

Kesadaran bahwa manusia adalah bagian dari realitas yang besar dan bukan pusat dari segala sesuatu adalah suatu bentuk “pertobatan” dalam memandang dengan penuh hormat dan takjub terhadap realitas di luar dirinya. Dalam konteks ini, mengikuti seruan Sri Paus Fransiskus, kita perlu melakukan pertobatan ekologis. Suatu sikap batin yang memandang alam sebagai “saudari” dan “ibu” yang menghidupkan dan sikap batin itu hendaknya diejawantahkan di dalam tindakan praktis sehari-hari.  

Pertobatan Ekologis
Covid 19 tak hanya menebarkan teror kematian yang merenggut ratusan ribu nyawa dan miliaran orang yang hidup dalam ketidakpastian eksistensial, tetapi juga mengubah perilaku individu di dalam relasi dengan yang lain. Kita lihat di kota-kota di banyak negara pemerintah memberlakukan kuncitara (lockdown) dan menerapkan social/physical distancing dan bahkan memberlakukan work from home untuk meminimalisir penyebaran covid 19. 

Keseharian kita yang ditandai dengan “keramaian” dalam relasi dengan yang lain berubah seketika menjadi keberjarakan untuk sebuah kehidupan. Mahkluk sosial berubah menjadi makhluk yang menyendiri atas nama antisipasi penyebaran covid 19. Aktivitas di luar rumah yang banyak menyumbang polusi udara untuk sementara waktu dihentikan dan dampaknya adalah udara kita kembali cerah meski untuk sesaat. 

Penulis percaya bahwa keberlangsungan organisme yang hidup sudah selalu saling terkait satu dengan yang lain. Ada semacam hubungan resiprokal antara setiap yang hidup dan keterjalinan itu saling mengandaikan kehidupan yang lain. Konsekuensinya adalah ketika satu jalinan rantai makanan dimusnahkan maka dengan sendirinya keutuhan ekosistem akan terganggu dan rusak. 

Kerusakan alam dapat disebabkan oleh bencana alam yang datang dari alam sendiri dan disebabkan oleh perilaku manusia yang memandang alam sebagai obyek untuk dieksploitasi. Kerusakan baik yang diakibatkan oleh alam maupun oleh tindakan manusia pada gilirannya akan membuat alam untuk menyembuhkan dirinya sendiri agar keberlangsungan hidup organisme tetap berlanjut. Jika alam tidak menyembuhkan dirinya sendiri barangkali itu pertanda kiamat. 

Joan Udu, OFM, melukiskan situasi krisis ekologis ini sebagai jeritan bumi akibat kepongahan manusia-manusia serakah yang tidak tahu berbalas budi. “Kerusakan yang dialami bumi saat ini berkelindan dengan kerakusan kita manusia. Sikap, cara pandang, dan cara bertindak kita yang cenderng egoistis membuat bumi terpuruk. Bumi tidak lagi dilihat sebagai ‘saudari’ , sebagai subyek hidup yang menyediakan segala hal yang kita butuhkan, tetapi sebagai obyek eksploitasi untuk melayani hasrat konsumeris kita yang tak terbatas” (Kompas, 19/5/2020). 

Pertobatan ekologis menuntut perubahan cara pandang dan tindakan manusia secara radikal dalam memandang alam ciptaan. Alam hendaknya diletakan sebagai subyek yang memberi hidup, bukan sebagai obyek pelampiasan keserakahan manusia. Alam hendaknya dipandang sebagai “saudari” yang mengasuh dan menghidupkan.    

Pertobatan ekologis hanya mungkin terwujud manakala manusia menyadari bahwa kerusakan alam yang terjadi selama ini diakibatkan oleh sikap mengutamakan keakuan yang radikal di antara ciptaan yang lain sedemikian rupa sehingga aku harus menjadi tuan dan yang lain ada sejauh untuk melayani hasratku. Keakuan harus diubah menjadi kekitaan. Di dalam kekitaan ada saling ketergantungan dan kesadaran itulah yang “memaksa” manusia untuk tidak lagi bertindak egois tetapi hidup untuk melayani dan berbagi dengan yang lain termasuk alam.

Pertobatan ekologis akan mengubah paradigma manusia dalam memandang alam. Alam bukan lagi obyek yang hadir untuk dieksploitasi tetapi sebagai ibu dan saudari yang dari padanya kita hidup. Alam adalah subyek.


 

Previous Post
Next Post

1 comment:

  1. Numpang promo ya gan
    kami dari agen judi terpercaya, 100% tanpa robot, dengan bonus rollingan 0.3% dan refferal 10% segera di coba keberuntungan agan bersama dengan kami
    ditunggu ya di dewapk^^^ ;) ;) :*

    ReplyDelete